Kurs Asia Drop, Rupiah Ikutan Melorot di Kamis Sore

Dolar - www.viva.co.idDolar - www.viva.co.id

Setelah perkasa di zona dalam beberapa perdagangan terakhir, harus melewati Kamis (7/6) ini di zona merah, seiring dengan pergerakan Asia yang melorot. Menurut paparan Index pukul 15.56 WIB, Garuda ditutup dengan pelemahan sebesar 22 poin atau 0,16% ke level Rp13.875 per AS.

Sebelumnya, rupiah sempat berakhir menguat 27 poin atau 0,19% di posisi Rp13.853 per dolar AS pada perdagangan Rabu (6/6) kemarin. Namun, pagi tadi, mata uang NKRI berbalik melemah 15 poin atau 0,11% ke level Rp13.868 per dolar AS ketika membuka . Sepanjang transaksi hari ini, spot praktis betah berada di area merah, mulai awal hingga tutup dagang.

Sementara itu, Bank Indonesia siang tadi menetapkan kurs tengah berada di posisi Rp13.868 per dolar AS, menguat 7 poin atau 0,05% dari perdagangan sebelumnya di level Rp13.875 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang Asia tidak berdaya versus , dengan pelemahan terdalam sebesar 0,30% menghampiri rupee India.

Dari pasar global, indeks dolar AS sebenarnya terpantau bergerak lebih rendah terhadap sekeranjang mata uang utama, termasuk versus euro, setelah European Central Bank (ECB) diprediksi segera mengurangi program pembelian obligasi mereka. Mata uang Paman Sam melemah 0,077 poin atau 0,08% ke level 93,537 pada pukul 11.15 WIB, sedangkan euro naik menuju level 1,1800 terhadap greenback.

Seperti dilansir Reuters, kepala ekonom ECB, Peter Praet, yang merupakan rekan dekat Gubernur ECB, Mario Draghi, mengatakan bank tersebut akan melakukan pertemuan minggu depan untuk mengakhiri pembelian obligasi akhir tahun ini. Di sisi lain, Gubernur Bank Sentral Jerman, Jens Weidmann, menuturkan bahwa mengurangi program pembelian obligasi adalah masuk akal.

Di sisi lain, melalui jajak pendapat yang dilakukan Reuters, sejumlah ahli strategi mata uang mengatakan bahwa dominasi dolar AS diperkirakan akan segera memudar, dengan perubahan mendadak dalam ekspektasi untuk kebijakan bank sentral lainnya. Hampir 60 persen analis mengatakan bahwa kebangkitan dolar AS hanya akan berlangsung sekitar tiga bulan.

“Kami merasa terlalu dini untuk memahkotai dolar AS dan mengekstrapolasi terus kekuatan greenback yang luas di paruh kedua tahun ini,” kata direktur eksekutif strategi FX global di J.P. Morgan, Daniel Hui. “Divergensi siklus mendukung dolar AS untuk turun karena data global secara bertahap stabil dan normalisasi kebijakan global masih menjadi kasus dasar.”

Loading...