Kurs Alami Kontraksi, Indeks Manufaktur ASEAN Cuma Naik 0,2 Poin

HONG KONG – manufaktur di Asia Tenggara tetap lemah selama bulan November, yang dipicu kontraksi tukar sejumlah mata uang -negara berkembang usai Pemilu AS. Indeks Nikkei ASEAN Manufacturing Purchasing Manager berdasarkan perhitungan IHS Markit asal hanya naik 0,2 poin dari bulan Oktober ke 49,4, sekaligus di bawah garis “aman” 50 selama dua bulan beruntun.

Sejak Donald Trump terpilih sebagai Presiden AS yang baru, spekulasi kenaikan terus berkembang dan membuat kurs mata uang ASEAN merosot. Ringgit Malaysia telah 8 persen terhadap AS sejak pengambilan suara 8 November, sedangkan jatuh sekitar 4 persen.

Pelemahan nilai tukar mata uang ini mengakibatkan biaya impor yang lebih tinggi untuk bahan baku. Di Malaysia, rekor lonjakan biaya bahan baku menjadi pukulan telak bagi sektor manufaktur. Biaya impor untuk bahan baku juga meningkat di Indonesia. Bahkan, di Filipina dan Myanmar yang ekonominya lebih sehat, biaya yang lebih tinggi memicu kekhawatiran tersendiri.

Thailand membukukan PMI sebesar 48,2 , level terendah sejak Desember tahun lalu. Kematian Raja Bhumibol Adulyadej pada bulan Oktober berdampak buruk pada seluruh sektor perekonomian Negeri Gajah Putih, karena banyak pabrik yang menghentikan .

Di luar ASEAN, PMI India jatuh ke 52,3 setelah muncul larangan dari Perdana Menteri Narendra Modi mengenai denominasi mata uang kertas. “Namun, perusahaan tidak diatur untuk meninggalkan dan akan memicu pertumbuhan dalam jangka panjang,” kata Ekonom IHS Markit, Pollyanna De Lima.

Loading...