‘Kuras’ Cadangan Devisa, Rupiah Tetap Melemah di Rabu Sore

Rupiah - inal knRupiah - inal kn

Meski harus mengorbankan cadangan devisa negara, namun rupiah ternyata belum punya cukup tenaga untuk melawan keperkasaan sepanjang Rabu (9/5) ini. Menurut Bloomberg Index pukul 15.35 WIB, Garuda mengalami pelemahan sebesar 32 poin atau 0,23% ke level Rp14.084 per dolar AS.

Sebelumnya, rupiah sudah ditutup terdepresiasi 51 poin atau 0,36% di posisi Rp14.052 per dolar AS pada Selasa (8/5) kemarin. Tren negatif mata uang NKRI berlanjut pagi tadi, dengan dibuka 33 poin atau 0,23% ke level Rp14.085 per dolar AS. Sepanjang hari ini, spot praktis tidak punya tenaga untuk keluar dari area merah, mulai awal hingga akhir dagang.

Sore kemarin, mengumumkan bahwa cadangan devisa Indonesia pada bulan April 2018 sebesar 124,9 miliar dolar AS, tergerus sebanyak 1,1 miliar dolar AS dibandingkan bulan sebelumnya. Menurunnya cadangan devisa digunakan bank sentral untuk menstabilkan kurs rupiah yang belakangan merosot. Meski demikian, cadangan devisa itu dinilai masih mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan.

“Posisi cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 7,7 bulan impor atau 7,4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan sekitar 3 bulan impor,” kata Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Agusman. “Kami melihat cadangan devisa ke depan tetap memadai, didukung keyakinan terhadap prospek ekonomi .”

Dari global, indeks dolar AS masih cukup perkasa terhadap sekeranjang mata uang utama dunia, termasuk yen Jepang, didukung reli harga minyak dunia dan imbal hasil obligasi yang lebih tinggi, ketika Presiden AS, Donald Trump, memutuskan untuk menarik diri dari kesepakatan nuklir internasional dengan Iran. Mata uang Paman Sam terpantau menguat 0,118 poin atau 0,13% ke level 93,238 pada pukul 12.40 WIB.

“Dolar AS menguat secara keseluruhan, terutama terhadap yen, setelah keputusan Trump, karena didukung kenaikan harga minyak dunia dan imbal hasil yang lebih tinggi,” tutur Tokyo Branch Manager State Street, Bart Wakabayashi, seperti dikutip Reuters. “Opini tampaknya terbagi di antara pelaku pasar mengenai seberapa jauh imbal hasil obligasi AS akan menguat, sehingga bisa masuk untuk berfluktuasi.”

Loading...