Kurangi Ketergantungan Dolar, Negara Berkembang Berlomba Timbun Emas

Invest Emas - www.gobankingrates.comInvest Emas - www.gobankingrates.com

TOKYO – -negara berkembang di Benua dan mereka yang berselisih dengan AS, saat ini sedang rajin melakukan investasi emas untuk mengurangi ketergantungan mereka terhadap greenback. -negara ini berharap bisa melakukan lindung nilai terhadap risiko yang terkait dengan kemungkinan Presiden AS, Donald Trump, mengambil posisi diplomatik garis keras menjelang paruh waktu AS pada bulan November mendatang.

Dilansir , emas bisa dikatakan sebagai ‘ tanpa kewarganegaraan’ yang dapat dikonversi menjadi unit moneter negara mana pun dan merupakan aset yang sangat likuid. Di Asia, negara-negara Asia Tenggara dan Asia Tengah sangat tertarik untuk meningkatkan kepemilikan emas mereka. Filipina memiliki 196,4 ton emas pada akhir Juni 2018, naik 20% dari tahun 2010. Sementara, kepemilikan emas Indonesia secara keseluruhan meningkat 10% menjadi 80,6 ton.

Banyak negara menjual dolar AS untuk emas guna mengurangi kerentanan mereka terhadap tindakan diplomatik Trump yang tidak dapat diprediksi. Itsuo Toshima, seorang analis pasar, menunjukkan kekhawatiran internasional yang berkembang tentang kemungkinan konsekuensi kebijakan pemotongan pajak Trump.

“Saat ini, perekonomian AS dalam kondisi sangat baik karena efek positif pemotongan pajak, tetapi waktunya akan tiba ketika AS akan menghadapi konsekuensi negatif dari tindakan itu,” ujar Toshima. “Pemerintah AS mungkin terpaksa meningkatkan penerbitan utang karena fiskal yang memburuk, dan itu akan meningkatkan kekhawatiran tentang kenaikan suku bunga dan risiko kepercayaan yang menurun terhadap dolar AS.”

Toshima sendiri mengharapkan negara-negara berkembang di Asia untuk terus membeli emas dalam beberapa bulan mendatang. Sejak krisis mata uang pada tahun 1997, banyak negara Asia telah melakukan upaya mantap untuk memangkas bagian greenback dalam aset keuangan mereka, dan emas telah menjadi salah satu aset yang telah mereka bangun dalam prosesnya.

Selain negara berkembang, negara-negara yang memiliki hubungan panas dengan pemerintahan Trump pun tidak ketinggalan untuk memperluas pembelian emas mereka. Di Iran, pembelian emas individu meningkat. emas batangan dan koin di negara itu selama paruh pertama tahun 2018 ini naik tiga kali lipat dari periode yang sama tahun lalu, menjadi 24,5 ton, menurut World Gold Council.

Yang paling populer di kalangan konsumen Iran adalah koin emas yang dikeluarkan oleh pemerintah. Pasalnya, koin-koin ini dibebaskan dari pajak pertambahan nilai yang dikenakan pada emas pada umumnya. Koin emas sendiri adalah sumber pendapatan langsung yang berharga bagi pemerintah. Kadang-kadang, orang terlihat antre di depan bank untuk membeli koin emas ini.

Sementara itu, di Rusia, yang juga terkena sanksi AS, bank sentral setempat meningkatkan penimbunan emasnya. Bank sentral Rusia menyimpan 1.944 ton emas di brankas mereka pada akhir Juni 2018, naik 105 ton atau sekitar 6% sejak akhir 2017. Moskow tampaknya berusaha menjaga diri terhadap dampak dari hubungannya yang memburuk dengan Washington dengan menjual imbal Treasury AS dan meningkatkan rasio emas dalam cadangan devisa.

Di Turki, yang sekarang menghadapi prospek buruk krisis mata uang penuh, Presiden Recep Tayyip Erdogan telah mendesak publik untuk menjual emas guna mengatrol mata uang negara itu yang telah jatuh. Erdogan meminta orang-orang Turki untuk membeli emas, yang dapat dengan mudah dikonversi menjadi uang tunai, dan digunakan untuk membuat cadangan mata uang.

Venezuela juga telah menjual emas untuk membendung kemerosotan pertumbuhan ekonomi yang disebabkan oleh sanksi AS. Cadangan emas bank sentral negara itu menyusut 20% pada tahun lalu menjadi 150 ton. Dengan penerimaan mata uang asing yang jatuh karena menurunnya penjualan minyak mentah, sumber utama devisa, pemerintah Venezuela semakin bergantung pada penjualan emas untuk pendapatan.

Loading...