Kurang Dipercaya, Produk Teknologi China Gagal Bersaing di Pasar Global

HONG KONG – Meski menguasai pasar dalam negeri, namun raksasa asal China masih kesulitan untuk bersaing di level internasional. Kurangnya kepercayaan, kesulitan mereplikasi jaringan sukses di dalam negeri, hingga perlindungan privasi yang terbatas menjadi beberapa faktor yang membuat perusahaan China belum mendunia.

message WeChat, situs e-commerce Taobao, atau perusahaan besar Alibaba Group Holding sangat populer di dalam negeri. Namun, pasar internasional tetap menjadi tantangan bagi -merek teknologi ini. Alibaba misalnya, lebih dari 86 persen pendapatan perusahaan yang dipimpin Jack Ma tersebut diperoleh dari negeri sendiri.

Afiliasi , Ant Financial, yang mengontrol Alipay, memiliki dalam penyedia pembayaran online seperti Ascend Money di Thailand dan Paytm di India. Namun, kehadirannya di Eropa (sebagian besar terbatas di Inggris Raya dan Perancis), masih belum mampu menembus dominasi kartu kredit dan sistem pembayaran online lainnya seperti PayPal.

“Alipay tidak tertarik untuk bersaing dengan pembayaran lainnya,” kelit Jack Ma. “Sangat bagus jika kami bisa berada di Eropa, begitu juga jika kami bisa di Amerika. Tetapi, akan lebih penting jika kami bisa memecahkan persoalan di India, Filipina, dan Malaysia.”

Pemain teknologi China telah lama menikmati posisi dominan di rumah sendiri karena kebijakan pemerintah yang menguntungkan dengan membatasi partisipasi asing. Sementara, ke lain sangat sulit, terlebih di pasar-pasar maju.

“Membangun ekosistem di pasar lain akan mengambil banyak usaha,” kata leader fintech di EY Pasifik, James Lloyd. “Ketika mereka pergi ke pasar asing, mereka berpotensi bersaing dengan Amazon dan Google serta siapa saja yang mencoba untuk membangun ekosistem itu.”

Akibatnya, ditambahkan Lloyd, beberapa beralih ke pasar negara berkembang, seperti India dan Asia Tenggara untuk . “Tentu saja, dengan modal yang cukup dan kemitraan, Anda bisa bersaing. Tetapi, pertanyaannya, akankah itu sepadan? Di luar China, saya tidak berpikir mereka akan menemukan banyak pasar yang seperti itu,” sambung Lloyd.

Perlindungan privasi yang terbatas juga menjadi hambatan untuk aplikasi Cina guna memenangkan kepercayaan khalayak global. Seperti aplikasi lainnya yang beroperasi di Cina daratan, WeChat baru-baru ini memicu kontroversi dengan tidak lagi menginformasikan kepada pengguna ketika pesan mereka dengan istilah sensitif, seperti “Tiananmen Square massacre”, diblokir.

“Masalah kepercayaan terhadap buatan China harus diselesaikan jika perusahaan negara tersebut ingin menjadi pemain global,” ujar Kepala Inovasi di DBD Bank, Neal Cross. “Memang sulit meruntuhkan keraguan pada China yang seperti kacang yang sulit untuk retak.”

Loading...