Kuliah di Singapura Bakal Makin Mahal di Tahun 2030 Mendatang

Kabar kurang menyenangkan bagi mereka yang ingin melanjutkan studi di . Menurut sebuah yang dirilis Economist Intelligence Unit (EIU), untuk memperoleh gelar sarjana pada tahun 2030 di Singapura, akan dikenakan biaya 70,2% dari pendapatan rata-rata individu per tahun. Angka ini dibanding tahun lalu di angka 53,1%.

Sejak 2010, biaya kuliah di universitas lokal Singapura memang mengalami kenaikan tiap tahunnya, terutama untuk jenjang Sarjana (S1). Kenaikan biaya kuliah ini terutama karena naiknya biaya operasional yang harus dikeluarkan universitas. Untuk mendapatkan gelar sarjana di Fakultas Seni dan Ilmu Sosial di National University of Singapore (NUS) misalnya, mahasiswa harus membayar 8.050 per tahun, naik dibanding tahun lalu di angka 7.950 .

Meski begitu, dalam penelitian yang sama, pendidikan Singapura diproyeksikan akan dari 3,4% pada tahun lalu ke 2,7% pada tahun 2030. Penurunan biaya ini sebagian besar karena turunnya angka kelahiran serta naiknya populasi masyarakat berusia di atas 60 tahun.

Penelitian yang dikenal sebagai Yidan Prize Forecast, Education 2030 ini dirilis kemarin (22/5) pada konferensi pers yang diadakan di Kowloon Shangri-La di Hong Kong. Studi ini dilakukan mulai Januari hingga Maret dan melihat tren pendidikan di 25 negara, termasuk Hong Kong, , , dan . Lima indikator yang diteliti meliputi pengeluaran publik untuk pendidikan, tingkat pengangguran remaja, keterjangkauan pendidikan, jumlah lulusan, serta akses internet di sekolah.

Menurut proyeksi, lulusan angkatan kerja di Singapura akan tumbuh sedikit ke angka 0,4% pada tahun 2030, naik dibandingkan tahun lalu di angka 0,3%. Sementara itu, tingkat pengangguran kaum muda di Singapura diramal masih tetap rendah, dari 10,9% pada tahun lalu, menjadi 10,8% pada tahun 2030 mendatang. “Namun, proyeksi ini bisa jadi mengkhawatirkan, tergantung pada prioritas Singapura,” ujar editor laporan EIU, Chris Clague.

Loading...