Awalnya Kritik China dan Iran Bakal Runtuh, Kini AS Kewalahan Hadapi COVID-19

Donald Trump, Presiden AS - www.vox.comDonald Trump, Presiden AS - www.vox.com

/ telah menjadi pandemi secara dan menginfeksi banyak negara di seluruh dunia. Beberapa pihak mencari pembenaran, dengan AS mengatakan coronavirus sebagai ‘ Asia’, kemudian ‘ Timur Tengah’, dan diteruskan sebagai ‘ China’ oleh Presiden Donald Trump, menggambarkan kebencian terhadap lawan dan ekonominya, Tiongkok dan Iran.

Dilansir TRT World, selama fase-fase awal -19, ada proyeksi tentang bagaimana malapetaka masyarakat di China dan Iran akan menjatuhkan Partai Komunis atau Republik Iran. Dalam kedua kasus tersebut, baik ketahanan China maupun Iran diremehkan, seperti virus itu sendiri, yang kemudian menginfeksi AS dan seluruh dunia.

Salah satu salvo pertama AS diluncurkan pada pertengahan Februari lalu dalam Wall Street Journal, dengan kolom berjudul China Is the Real Sick Man of Asia yang ditulis oleh Walter Russell Mead. Judulnya dikritik karena ketidakpekaannya, namun para editor surat kabar itu mengeluarkan pembenaran. “Kebanyakan orang Amerika memahami ungkapan dalam konteks Kekaisaran Ottoman yang sekarat sebagai ‘sick man of Europe’. Itulah analogi sejarah kami,” kata editor Wall Street Journal.

Jika seseorang membaca yang tersirat, para editor meminta agar tidak ada pelanggaran yang dilakukan, karena mereka benar-benar bermaksud menyinggung masa lalu. Meskipun demikian, ‘orang sakit’ yang merujuk pada Imperium Ottoman adalah sebuah istilah yang digunakan oleh kekuatan-kekuatan Eropa menjelang Perang Dunia I untuk mengeksploitasi dan memicu ketegangan nasionalis di Balkan, Anatolia, dan Semenanjung Arab.

Pada saat yang sama, kekuatan-kekuatan Eropa telah menerkam Imperium Ottoman yang ‘sakit’, melakukan hal yang sama terhadap Kekaisaran Qing di Tiongkok. Mereka mengeksploitasinya pada pertengahan abad ke-19 untuk memaksa penjualan opium Inggris pada China, atau mengukirnya di zona pengaruh setelah Pemberontakan Boxer sekitar pergantian abad kedua puluh.

“Orang mungkin berargumen, apa salahnya dalam judul dengan referensi sejarah?,” ujar Ibrahim Al Marashi, seorang profesor di Departemen Sejarah, California State University, San Marcos. “Masalahnya, menurut seorang akademisi Princeton, adalah bahwa ada ‘cottage industry of Western experts’ yang berasumsi bahwa keruntuhan Partai Komunis Tiongkok akan terjadi ketika bencana coronavirus menjelma sebagai Chernobyl versi China.”

Seperti halnya klaim tentang ‘sifat rapuh’ dari Partai Komunis, demikian juga proyeksi serupa tentang Republik Islam Iran. Klaim semacam itu dapat ditemukan dalam artikel Wall Street Journal karya Robert D. Kaplan berjudul ‘Coronavirus and Tragedy of Iran’ yang menuliskan bahwa ‘Republik Islam telah kehilangan kemakmuran global dan sekarang dalam tahap dekaden, akhir Soviet’. “Dalam dua kasus ini, The Wall Street Journal mengungkapkan dirinya sebagai pemandu sorak untuk pergantian rezim China dan Iran,” sambung Al Marashi.

Hal serupa juga ditemukan dalam artikel Graeme Wood berjudul ‘Coronavirus Could Break Iranian Society’ yang diterbitkan di The Atlantic, menggambarkan kota suci Qom sebagai ‘Disneyland Syiah’. Dalam artikel itu ia mengkritik Mohammad Saeedi, kepala mausoleum Fatima Masumeh, yang diduga menentang karantina, memohon orang untuk mengunjungi mausoleum, menyebutnya sebagai tempat penyembuhan. Namun, Wood mengeluarkan komentar Saeedi di luar konteks.

“Masalah dengan artikel seperti ini adalah ia memfokuskan kesalahan wabah virus corona terhadap pemerintah Iran sambil mengabaikan bagaimana sanksi yang dijatuhkan oleh rezim Trump yang menargetkan perdagangan kemanusiaan,” tambah Al Marashi. “Iran akan memiliki dampak yang lebih besar pada kemampuan negara untuk menangani wabah tersebut.”

Proyeksi perubahan rezim di China dan Iran ditulis pada saat virus itu tampak berada pada jarak yang aman dari wilayah Amerika. Namun, sebulan kemudian, seluruh negara bagian Amerika, mulai dari California hingga Illinois, akan ditutup. Kota New York sudah menjadi ‘Qom Amerika’ dan kasus infeksi di AS telah melampaui jumlah total kasus di Iran dan berada di jalur untuk ‘mengejar’ China.

“Sama seperti penulis berusaha untuk menganalisis bagaimana virus mencerminkan kegagalan tata kelola kesehatan masyarakat di China dan Iran, wabah di AS mengungkapkan langkah-langkah yang tidak memadai yang diambil oleh pemerintahan Trump,” sambung Al Marashi. “Ia menghilangkan pakar pandemi dari stafnya, dan gagal mengindahkan peringatan intelijen di Januari 2020 tentang dampak potensial virus, dan akhirnya kurangnya peralatan pengujian dan ventilator.”

Loading...