Sejarahwan Ekonomi: Krisis Virus Corona Berpotensi Seburuk Great Depression

Pekerja Bidang Industri - www.daysoftheyear.comPekerja Bidang Industri - www.daysoftheyear.com

BERLIN – Dampak yang disebabkan virus dikatakan serupa dengan yang terjadi selama Perang Dunia I dan Perang Dunia II. Namun, krisis ini diprediksi bisa berpotensi seburuk Great Depression pada awal 1930-an, dengan penurunan , penurunan , pengangguran massal, krisis keuangan, yang disusul dengan krisis utang .

“Ini masih di awal krisis dan bisa seburuk Great Depression pada awal 1930-an,” tutur Albrecht Ritschl, profesor sejarah ekonomi yang mengajar di London School of Economics sejak 2007, dalam interview dengan Deutsche Welle. “Penurunan produk bruto bisa sekitar 20%. Namun, prospek suram ini tergantung pada berapa lama tindakan karantina berlangsung.”

Ia menambahkan, tentu saja semua memikirkan kapan kita akan menghadapi kekurangan pasokan atau kerusuhan sosial. Anda juga dapat melihat bahwa politisi di seluruh dunia panik. “Presiden AS () berusaha menyelamatkan dengan berjanji akan memulai ekonomi lagi setelah Paskah. Tidak ada yang tahu bagaimana dia mendapatkan ide ini, tetapi seringkali perhitungan politik bekerja secara berbeda dari seorang ahli,” sambung Ritschl.

“Kami tidak tahu apakah ini benar-benar akan terjadi. Setelah krisis keuangan 2008, para ekonom memperkirakan ini, dan kami semua salah, termasuk saya,” lanjut Ritschl. “Efek utama adalah pergeseran dalam kerja industri dan sektoral. Contohnya adalah apa yang kita lakukan sekarang, pusat. Saya dapat membayangkan bahwa sebagian besar cara kerja ini tetap seperti itu. Semua perang dan krisis besar telah menyebabkan perubahan dalam mode produksi.”

Menurut Ritschl, faktor yang akan membantu pulih dari krisis adalah seberapa banyak utang pemerintah. Jika suatu negara memiliki tingkat utang publik yang relatif rendah sebelum terjadinya krisis, dan juga pilihan kebijakan fiskal yang sesuai, akan lebih mudah untuk keluar dari krisis dengan cepat. Negara-negara biasanya harus berjuang dengan utang pemerintah yang berlebihan pada akhir krisis.

“Untuk Jerman, melalui kebijakan hitam nol yang kontroversial (menjaga anggaran yang seimbang), sekarang bisa mengambil tindakan pencegahan besar. Dalam hal ini, Jerman berada dalam posisi yang cukup baik,” tambahnya. “Namun, masalah negara itu adalah lebih terhubung secara internasional daripada kebanyakan ekonomi besar lainnya. Itu berarti mereka lebih tergantung daripada yang lain.”

Loading...