Krisis Turki Guncang Rupiah, Bank Indonesia Naikkan Suku Bunga

Bank Indonesia - fakta.newsBank Indonesia - fakta.news

JAKARTA – Dalam Rapat Dewan Gubernur yang berlangsung 14-15 Agustus kemarin, Bank Indonesia memutuskan untuk menaikkan acuan BI 7 Days Reverse Repo Rate sebesar 25 basis poin ke level 5,50%, atau kenaikan keempat dalam lima pertemuan. Ini dilakukan bank sentral sebagai tanggapan atas krisis mata uang , lira, yang telah menimbulkan gejolak di pasar .

Dilansir Nikkei, Bank Indonesia telah menaikkan suku bunga utama di semua pertemuan sepanjang tahun 2018 ini, kecuali pada bulan Mei, total 125 basis poin, karena berusaha membendung penurunan kurs rupiah. Kenaikan terbaru didorong oleh aksi jual di aset pasar berkembang karena menghindari aset berisiko setelah melihat lira kembali jatuh ke rekor terendah pada minggu ini.

“Ketidakpastian global meningkat karena kerentanan ekonomi domestik Turki,” ujar Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, dalam konferensi pers setelah pertemuan. “Bank Indonesia terus memerhatikan semua faktor, termasuk Fed Fund Rate, ketegangan , dan apa yang terjadi di Turki serta kemungkinan dampak dari situasi tersebut.”

Nilai tukar rupiah sendiri telah jatuh lebih dari 7% sepanjang tahun ini, merosot ke level terendah terhadap dolar AS sejak 2015 pada hari Senin (13/8) kemarin, meski sempat menguat sedikit setelah pengumuman. Menurut ekonom senior Asia di Capital Economics, Gareth Leather, keputusan tersebut menunjukkan bahwa fokus bank sentral tetap mendukung rupiah.

“Pihak berwenang khawatir tentang pelemahan mata uang karena tingkat utang mata uang asing yang relatif tinggi,” tulisnya dalam sebuah . “Bahkan, jika krisis di Turki mulai memudar, kami pikir kombinasi meningkatnya imbal hasil US Treasury dan perang perdagangan antara AS dan China akan tetap membuat rupiah di bawah tekanan. Untuk saat ini, kenaikan suku bunga tampaknya tidak mungkin mengakhiri pelemahan rupiah.”

Bank Indonesia secara teratur melakukan intervensi di pasar mata uang untuk menghentikan penurunan, tetapi tetap tidak dapat menghentikan depresiasi rupiah, sebuah tren yang diperparah oleh defisit transaksi berjalan yang terus-menerus. Defisit melebar menjadi 8 miliar dolar AS pada kuartal kedua tahun ini, atau yang paling rendah dalam hampir empat tahun.

Selain itu, Indonesia juga mencatat defisit perdagangan sebesar 2 miliar dolar AS pada bulan Juli kemarin, atau terbesar dalam lima tahun. Investor asing pun mulai menarik modal mereka, dengan investasi langsung anjlok hampir 13% pada kuartal April hingga Juni, kontraksi pertama setidaknya sejak tahun 2010.

“Data-data ini lebih buruk dari yang diharapkan dan mereka kemungkinan memainkan peran dalam keputusan bank,” tutur kepala ekonom di Bank Central Asia, David Sumual. “Saya sendiri mengharapkan suku bunga acuan bisa meningkat sebesar 5,75% hingga 6% pada akhir tahun, dan pertumbuhan ekonomi untuk setahun penuh menjadi 5,2%, sedikit lebih rendah dari perkiraan sebelumnya.”

Presiden Indonesia, Joko Widodo, telah mengambil langkah tidak konvensional untuk mengelola penurunan rupiah. Jokowi telah memerintahkan untuk meningkatkan konsumsi biodiesel minyak sawit yang diproduksi secara lokal guna mendorong keluar bahan bakar impor, dan dilaporkan mempertimbangkan untuk mengurangi proyek-proyek infrastruktur dengan tujuan meminimalkan impor bahan bangunan.

Sementara itu, Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, mengatakan bahwa akan memberlakukan tarif 7,5% pada 500 barang konsumsi dan bahan baku yang ‘memiliki potensi untuk substitusi produk di dalam negeri’. juga menyarankan Pertamina dan PLN untuk meninjau jumlah komponen yang mereka impor untuk proyek-proyek seperti pembangkit listrik dan rig minyak. Dia juga meminta agar perusahaan menunda proyek-proyek baru dan menangguhkan impor barang modal selama enam bulan.

Presiden Jokowi pekan lalu mengumumkan bahwa ia akan mencalonkan diri untuk masa jabatan kedua sebagai presiden dalam pemilihan umum April 2019 mendatang. Nilai tukar rupiah yang terus mengalami depresiasi bisa diterjemahkan ke dalam inflasi yang lebih tinggi, yang berpotensi merusak peluangnya untuk terpilih kembali.

Loading...