Koreksi Teknikal, Rupiah Dibuka Melemah di Awal Perdagangan

Rupiah - okezone.comRupiah - okezone.com

Jakarta – Kurs dibuka melemah sebesar 72 poin atau 0,50 persen ke posisi Rp 14.364 per di awal perdagangan pagi hari ini, Rabu (5/12). Kemarin, Selasa (4/12), Garuda ditutup terdepresiasi 48 poin atau 0,33 persen ke level Rp 14.292 per USD setelah bergerak pada kisaran angka Rp 14.278 hingga Rp 14.323 per dolar AS.

Sementara itu, indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the terhadap sejumlah mata uang utama terpantau melemah. Pada akhir perdagangan Selasa atau Rabu pagi WIB, indeks dolar AS terpantau turun 0,07 persen menjadi 96,9680 pukul 20.00 GMT. Penurunan dolar AS terjadi karena kurva imbal hasil terbalik surat utang AS menimbulkan kekhawatiran pasar terkait perlambatan Amerika Serikat.

Imbal hasil obligasi 2 tahun dan 3 tahun dilaporkan melampaui imbal hasil obligasi 5 tahun untuk hari kedua berturut-turut pada Selasa (4/12), demikian seperti dilansir Reuters. Hal ini menciptakan inversi spread imbal hasil, yang biasanya dipandang sebagai pendahulu dari perlambatan ekonomi. Selama 5 dekade terakhir, inversi spread imbal hasil antara surat utang 2 tahun dan 10 tahun muncul menjelang tiap resesi di AS.

Oleh sebab itu para analis memperingatkan jika inversi terbaru antara obligasi jangka pendek dan jangka panjang mengisyaratkan ekspektasi pasar bahwa pertumbuhan ekonomi AS akan melambat. Aksi jual besar-besaran di pasar saham pun mendorong sejumlah investor untuk beralih ke obligasi pemerintah AS yang relatif kurang berisiko dan tingginya permintaan dolar AS sebagai safe haven lantaran likuiditasnya tinggi.

Rupiah sendiri menurut Direktur Garuda Berjangka Ibrahim melemah karena faktor koreksi teknikal lantaran telah menguat selama beberapa hari berturut-turut. “Sebenarnya wajar jika rupiah melemah saat ini,” ungkap Ibrahim, seperti dilansir Kontan.

Senada, ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual berpendapat jika gerak rupiah sebenarnya cenderung stabil dan ada dalam rentang sempit. Terlebih kini rupiah dinaungi sentimen positif hasil pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dengan Presiden Xi Jinping. Oleh sebab itu David memperkirakan rupiah bisa terus menguat dan baru tertahan menjelang rapat tanggal 19 Desember 2018 depan. “Karena Fed fund rate sudah pasti akan naik di Desember,” tandasnya.

Loading...