Badan Atom PBB: Korea Utara Aktifkan Kembali Reaktor Nuklir

Reaktor nuklir di Yongbyon, Korea Utara - www.voaindonesia.com

PYONGYANG – Utara, yang memiliki , tampaknya telah memulai kembali reaktor pemrosesan ulang penghasil plutonium mereka dalam perkembangan yang ‘sangat meresahkan’, demikian klaim International Atomic Energy Agency (IAEA), sebuah badan pengawas atom PBB. Hal tersebut dapat menjadi sebuah tanda kemungkinan Pyongyang sedang memperluas program senjata terlarangnya.

Diberitakan TRT World, pemimpin Korea Utara, Kim Jong-un, pernah menawarkan untuk membongkar bagian dari Kompleks Yongbyon pada pertemuan puncak kedua dengan saat itu, , dengan imbalan keringanan sanksi, tetapi tawarannya ditolak. Seperti diketahui, Korea Utara berada di bawah serangkaian sanksi atas senjata nuklir dan program rudal balistiknya, yang telah mengalami kemajuan pesat di bawah Kim.

Dalam laporan tahunannya, IAEA mengatakan bahwa sejak awal Juli kemarin, sudah ada indikasi, termasuk keluarnya air pendingin, yang konsisten dengan pengoperasian reaktor. Kemungkinan pengoperasian reaktor tersebut mengikuti indikasi baru-baru ini bahwa Pyongyang juga menggunakan radiokimia terdekat untuk memisahkan plutonium dari bahan bakar bekas yang sebelumnya dikeluarkan dari reaktor.

Menurut laporan IAEA, reaktor Yongbyon tampaknya tidak aktif sejak Desember 2018 hingga saat itu. Inspektur IAEA sendiri diusir dari Korea Utara pada tahun 2009, dan sejak saat itu, badan tersebut memantaunya dari luar. “Tanda-tanda reaktor dan laboratorium sangat meresahkan, dan kegiatan tersebut merupakan pelanggaran yang jelas terhadap resolusi PBB,” tulis laporan tersebut.

Berjarak sekitar 100 kilometer atau 60 mil di utara Pyongyang, Yongbyon adalah rumah bagi reaktor nuklir pertama itu, dan merupakan satu-satunya sumber plutonium yang diketahui untuk program senjata Korea Utara. Namun, Yongbyon tidak diyakini sebagai satu-satunya fasilitas pengayaan uranium Korea Utara dan menutupnya tidak akan dengan sendirinya menandakan berakhirnya program atom itu.

Korea Utara memang menangguhkan uji coba nuklir dan rudal selama proses diplomatik pada 2018 lalu, tetapi mengatakan pihaknya mengabaikan moratorium yang dideklarasikan sendiri pada Januari 2020. Negara tersebut kemudian melakukan serangkaian peluncuran rudal jarak pendek, walau memang belum melakukan uji coba nuklir sejak 2017.

Loading...