Arabika Argowayang, Kopi Lokal Ngabab Pujon yang Dicintai Anak Muda

Pengolahan biji kopiPengolahan biji kopi

Saat ini, budaya ngopi sudah melekat ke semua kalangan, tak terkecuali para pemudanya. Di Indonesia sendiri, juga memiliki berbagai dengan ciri khas cita rasa yang berbeda-beda. Dari banyaknya yang berkembang, arabika termasuk yang dipilih untuk dibudidayakan para petani. Salah satu jenis arabika lokal yang eksis di Malang yakni Arabika Argowayang. Bahkan, kopi yang diproduksi petani di Ngabab, Pujon, Kabupaten Malang, Jawa Timur ini sudah banyak dipesan hingga luar daerah.

“Kopi arabika argowayang ini memiliki empat jenis berbeda, yakni honey, full wash, anaerob, dan natural. Untuk tahapan jenis natural, proses penjemurannya bisa mencapai 40 hari,” papar Rizal Ahmad Maulana, prosesor kopi Arabika Argowayang sambil menunjukkan kopi olahannya.

Pemuda usia 19 tahun ini sudah menekuni budidaya kopi di wilayah Ngabab sejak usia 12 tahun. Rokim, sapaan akrabnya, begitu ulet membantu orang tuanya bertani kopi, meski dia sendiri bukan terlahir dari keluarga petani kopi. Awal mulanya, dia dan keluarganya mengikuti program pemerintah untuk menanam kopi. Ketertarikan di dunia kopi membuatnya mempelajari seluruh proses pengolahan kopi secara otodidak.

“Budidaya kopi ini cukup panjang, mulai dari pembibitan, penanaman, hingga panen dan pasca panen. Belum lagi, kita harus sering cek kondisi tanaman kopinya karena faktor cuaca juga berpengaruh pada hasil panennya,” tambah Rokim.

Rokim dan beberapa petani kopi lain di Ngabab rutin setiap hari datang ke untuk memeriksa tanaman kopinya. Dia begitu telaten memangkas tanaman kopi yang rusak karena hama cabuk dan memanennya. Selanjutnya, Rokim pun membawa hasil panennya ke ruangan khusus pengolahan kopi dan masih harus menyelesaikan tahapan lainnya.

“Sekarang ini saya sedang bereksperimen untuk membuat jenis kopi honey anaerob dengan taste yang lebih kompleks. Sebelum hasilnya memuaskan, saya tidak berani memasarkan dulu,” ungkapnya.

Dalam tujuh tahun perjalanannya, setiap proses yang dilalui Rokim bukan berarti tak pernah menemui kendala. Terlebih kala itu, tak sedikit petani kopi di daerahnya banting setir menjadi petani sayur-sayuran karena pengolahan kopi yang terbilang panjang dan tidak mudah. Tak heran, jika Rokim bertekat mengajak para petani lokal untuk membangkitkan kembali produksi kopi di wilayahnya agar mampu menjadikan daerah Ngabab sebagai pusat industri kopi.

“Awalnya, memperkenalkan kopi arabika argowayang ini banyak sekali kendalanya, lewat door to door juga. Terlebih usia saya masih muda waktu itu, jadi masih sering diremehkan dengan hasil olahan kopinya,” kata Rokim.

Berkat keuletannya, dia mampu memotivasi para petani kopi lain untuk bangkit dan konsisten membudidayakan kopi. Rokim pun gencar mempromosikan kopi miliknya melalui sosial media agar lebih dikenal luas. Alhasil, lambat laun, kopi argowayang miliknya dikenal luas tak hanya di sekitar Ngabab, melainkan dari luar Kota Malang dan Batu.

“Kopi arabika argowayang sudah rutin dipesan di kafe-kafe besar di Kota Batu. Kadang pemilik kafe luar Malang juga datang ke sini untuk melihat langsung kualitas kopi kami,” tutupnya.

Kopi argowayang dan jenis lainnya membawa harapan besar nantinya muncul sebagai salah satu ikon di wilayah Ngabab, Pujon. Selain itu, adanya Rokim dapat memunculkan pemuda-pemuda lain yang peduli pada sektor untuk berkolaborasi bersama dalam meningkatkan perekonomian .

Dokumentasi:

Liputan Khusus Mayantara Media Group

Loading...