Kontrak Berjangka CBOE Global Markets Dirilis, Harga Bitcoin Nyaris Sentuh $ 18.000

Bitcoin - freebitcoinfaucet.proBitcoin - freebitcoinfaucet.pro

Pada Jumat (15/12) kemarin mencetak harga tertinggi sepanjang masa yang hampir menyentuh angka USD 18.000 di bursa Bitstamp. Kenaikan ini terjadi seiring meningkatnya peringatan terkait risiko berinvestasi pada mata uang yang sangat volatil dan spekulatif tersebut.

Akan tetapi, pada hari ini, Sabtu (16/12) harga bitcoin turun 0,23% ke level USD 17.561,76 atau sekitar Rp 238 jutaan dalam rupiah setelah dibuka di level USD 17.601,94. Sepanjang hari ini bitcoin diperdagangkan pada kisaran USD 17.419,43 hingga USD 17.679,74 dengan pangsa pasar sebesar USD 294 miliar. Sejak awal tahun 2017 bitcoin telah mencatatkan kenaikan lebih dari 1.700%. Kenaikan harga ini sekaligus memicu kekhawatiran bahwa pasar Bitcoin adalah gelembung yang bisa meledak dengan cara spektakuler.

Pada bulan Desember 2017 saja bitcoin telah naik hampir 80%. Sejak Senin bitcoin telah menambahkan seperlima nilainya dan diperdagangkan lebih tenang daripada kenaikan harga pasar yang terlihat selama beberapa pekan terakhir. bitcoin pun dilaporkan lebih rendah sejak peluncuran kontrak berjangka bitcoin dari CBOE Markets pada Minggu (10/12) lalu.

Menurut analis pasar, harga bitcoin mengalami kenaikan akibat peluncuran kontrak berjangka bitcoin dari pesaing CME Group. “Harapannya adalah bahwa kontrak berjangka menandai pembukaan dana institusional ke area digital dan (akan ada) peningkatan dan ratifikasi berikut prinsip-prinsipnya,” ujar Charles Hayter, pendiri situs Cryptocompare, seperti dilansir CBC.

Di luar pasar cryptocurrency, timbul kekhawatiran terkait uang yang mengalami penumpukan. Sebuah studi yang dilakukan oleh Anglia Ruskin University, Trinity College Dublin, dan Dublin City University yang dilaporkan pada Jumat lalu menyebutkan bahwa bitcoin dapat menjadi ancaman bagi stabilitas keuangan mata uang dan pasar tradisional.

“Bukti kami menemukan bahwa harga bitcoin telah meningkat secara artifisial dengan spekulatif, membuatnya menjadi omong kosong,” ujar kata Larisa Yarovaya, salah satu penulis laporan dan dosen Universitas Anglia Ruskin. “Meskipun bitcoin tidak diatur oleh , masih bisa ada efek ‘knock-on’ pada pasar tradisional karena keterkaitan pasar cryptocurrency dengan aset keuangan lainnya,” imbuhnya.

Sementara itu, yang lain beranggapan bahwa dengan ukuran pangsa pasar bitcoin yang mencapai sekitar USD 300 miliar tidak mengakibatkan dampak dari keruntuhan harga yang cukup besar di masa depan untuk menimbulkan efek knock-on pada stabilitas keuangan.

Loading...