Konsumsi Ikan Meningkat, Illegal Fishing Marak di Asia-Pasifik

FAO memprediksi bahwa pada tahun 2025, laut di wilayah Asia dan Oceania (di luar Jepang, Australia, dan ) akan sebesar 12 persen. Meningkatnya ikan tersebut membuat permintaan ikan laut semakin tinggi. Dampaknya, illegal fishing pun semakin merajalela, terutama di perairan Asia-Pasifik.

Menurut laporan terbaru dari Pacific Islands Forum Fisheries Agency, penangkapan ikan ilegal di wilayah ini jika dihitung dalam skala mencapai 338.475 ton tuna, atau setara 740.000.000 AS setahun. Peningkatan ilegal fishing di Australia menjadi salah satu yang signifikan dengan 20 kapal nelayan asing ilegal yang ditangkap selama tahun fiskal yang berakhir Juni, demikian laporan Australian Fisheries Management Authority.

Pada bulan lalu, tiga nelayan Cina juga dikabarkan tewas dalam suatu kebakaran kapal di dekat perairan Korea Selatan. Menurut laporan setempat, polisi maritim Korea Selatan melemparkan granat ke perahu nelayan tersebut setelah mereka mengabaikan peringatan. Polisi mengatakan kapal itu diduga illegal fishing.

Negeri Ginseng pada awal Oktober lalu mengatakan akan menggunakan kekuatan yang lebih besar dalam menangani kapal nelayan yang memancing secara ilegal di perairan mereka, termasuk menembak. Baru-baru ini, Korea Selatan telah memanggil Duta Besar usai insiden kapal penjaga pantai Korea Selatan dihantam kapal nelayan yang diduga memancing secara ilegal.

Illegal fishing, bagaimanapun memiliki potensi yang dapat merusak hubungan diplomatik antara -negara di kawasan Asia-Pasifik. Presiden Japan Fisheries Research and Education Agency, Masanori Miyahara, mengatakan bahwa ekonomi bergantung pada laut dan -negara perlu menyadari bahwa persaingan di sepanjang garis pantai sedang menuju gejolak.

“Untuk negara-negara kecil seperti di Pasifik Selatan, illegal fishing dengan hanya satu perahu asing dapat menyebabkan ketidakpercayaan terhadap negara,” katanya. “Sementara, satu insiden penangkapan ikan ilegal antara dua negara besar bisa memicu pembicaraan diplomatik tingkat tinggi.”

Loading...