Konflik AS-China Kembali Panas, Rupiah Berakhir Turun

Rupiah - inapex.co.idRupiah - inapex.co.id

JAKARTA – praktis tidak memiliki tenaga untuk bangkit ke teritori hijau pada perdagangan Rabu (29/5) sore ketika bergerak stabil seiring dengan meningkatnya kekhawatiran konflik antara dan China. Menurut Index pada pukul 15.59 WIB, Garuda melemah 35 poin atau 0,24% ke level Rp14.410 per AS.

Sementara itu, siang tadi Bank Indonesia mematok kurs tengah berada di posisi Rp14.417 per , terdepresiasi 37 poin atau 0,26% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.380 per . Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang takluk versus greenback, dengan pelemahan terdalam sebesar 0,65% menghampiri won Korea Selatan.

Dari global, kekhawatiran mengenai eskalasi lebih lanjut dalam perselisihan perdagangan antara AS dan China membuat dolar AS relatif bergerak stabil pada hari Rabu, setelah semalam terdongkrak karena aktivitas perburuan aset safe haven. Mata uang Paman Sam hanya melemah tipis 0,054 poin atau 0,06% ke level 97,898 pada pukul 12.54 WIB.

Dilansir Reuters, surat kabar People’s Daily, yang dimiliki oleh Partai Komunis China yang berkuasa, mengabarkan bahwa Beijing siap menggunakan dominasi mereka dalam logam tanah jarang untuk menyerang balik AS. Logam tanah jarang sendiri merupakan kumpulan 17 unsur kimia pada tabel periodik, terutama 15 lantanida ditambah skandium dan ytrrium.

Dalam tajuk berjudul ‘, jangan meremehkan kemampuan China untuk menyerang balik, People’s Daily mencatat ketergantungan AS terhadap logam tanah jarang yang dimiliki China. Ungkapan ‘jangan katakan kami tidak memperingatkan Anda’ umumnya hanya digunakan oleh media resmi China untuk memperingatkan saingan atas daerah-daerah perselisihan utama, misalnya dalam perselisihan perbatasan dengan India pada 2017 dan sebelum China menyerbu Vietnam pada 1978.

Di sisi lain, pada Selasa (28/5) waktu setempat, Departemen Keuangan AS mengatakan dalam sebuah laporan bahwa pihaknya meninjau kebijakan serangkaian 21 mitra dagang utama AS yang diperluas dan menemukan bahwa sembilan memerlukan perhatian penuh karena praktik mata uang. Ini termasuk China, Jerman, Irlandia, Italia, Jepang, Korea Selatan, Malaysia , Singapura, dan Vietnam.

“Laporan tersebut memiliki dampak yang membungkam sentimen risiko,” tutur ahli strategi mata uang dan ekuitas di Bank of America Merrill Lynch, Shusuke Yamada. “Saat ini, pelaku pasar bakal mengamati bagaimana Amerika Serikat dan China akan menangani sengketa perdagangan mereka pada pertemuan G20 di Jepang bulan depan.”

Loading...