Kondisi ‘Sekarat’, Proton Malaysia Bakal Dibeli Perusahaan Asal China

Proton Malaysia - www.straitstimes.comProton Malaysia - www.straitstimes.com

MALAYSIA – asal , Zhejiang Geely, dikabarkan akan membeli sekitar 49,9 persen kepemilikan Proton, produsen mobil nasional Malaysia. Pembelian ini diharapkan dapat mampu mempertahankan eksistensi Proton di pasar dalam negeri karena tersebut memang dalam kondisi ‘sekarat’.

Dikabarkan The Straits Times, Perdagangan dan Industri II Malaysia, Datuk Ong Ka Chuan, mengakui bahwa target sebenarnya dari Zhejiang Geely adalah pembuat mobil Lotus. Produsen mobil asal Negeri Tirai Bambu tersebut membeli 51 persen saham Lotus yang telah bernilai 177 juta dolar Singapura, untuk mengendalikan yang dimiliki oleh perusahaan mobil ringan.

Zhejiang Geely sendiri masih berdiskusi dengan DRB-Hicom tentang harga transaksi akhir untuk Proton. Analis investasi mengharapkan DRB-Hicom untuk keluar dari Lotus dan mentransfer RM 540 juta ringgit Malaysia aset Proton ke dalam bukunya sendiri. Analis memperkirakan saham Zhejiang Geely yang sebesar 49,9 persen akan dihargai sekitar 770 juta ringgit.

Perusahaan akan membayar 170 juta ringgit secara tunai, dan sisanya harus diselesaikan dengan memberikan Proton lisensi lima tahun untuk menjual kendaraan sport Geely Boyue dengan nama produsen mobil Malaysia. Untuk membantu kesepakatan tersebut, Malaysia dikabarkan menyerahkan sekitar 1,1 miliar ringgit kepada Proton, dengan mengatakan bahwa uang pembayar pajak adalah ‘penggantian’ untuk Litbang yang dilakukan oleh Proton dalam beberapa tahun terakhir.

Sebelumnya, pembayar pajak Malaysia telah ‘memompa’ lebih dari 3 miliar dolar AS (atau 4,14 miliar dolar Singapura) selama tiga dekade terakhir agar perusahaan Proton bisa tetap bertahan. Dan, dengan pembelian sebesar 49,9 persen kepemilikan yang dilakukan raksasa China tersebut, bisa berarti bahwa mereka tidak perlu lagi harus melakukan subsidi produsen mobil nasional.

“Proton saat ini sedang dalam kondisi ‘berdarah’ dan tampaknya pemerintah harus terus mensubsidinya,” ujar rekan senior S. Rajaratnam School of International Studies, Oh Ei Sun, kepada The Sunday Times. “Dengan penjualan ini, harapannya Proton akan segera kehilangan statusnya yang dilindungi, dan orang bisa membeli mobil asing tanpa perlu khawatir harga melonjak.”

Analis sendiri percaya bahwa kesempatan untuk ‘menyingkirkan’ industri proteksionisme akan membuat Malaysia menjadi pusat otomotif yang kompetitif, dengan produsen suku cadang lokal memperoleh keuntungan dalam jangka panjang. Sektor tersebut saat ini memang tertinggal dari negara-negara tetangga, seperti Thailand dan . “Kami melihat perkembangan ini secara positif untuk sektor otomotif Malaysia, yang dapat muncul sebagai hub ekspor mobil sekunder dengan mengendarai nama merek Geely yang kuat dan mengembangkan platform untuk menembus pasar ASEAN,” kata analis auto regional Maybank Kim Eng, Ka Leong Lo.

Selain itu, ada juga harapan bahwa orang Malaysia akan mendapat keuntungan dari injeksi teknologi Volvo ke dalam line up Proton, karena marque Swedia dimiliki oleh Zhejiang Geely. Sebuah platform Geely yang disebut SUV Boyue, diproduksi oleh seorang mantan desainer Volvo, diatur untuk menjadi kendaraan sport pertama Proton.

Meski demikian, mantan Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Mohamad, sempat mengatakan bahwa menjual Proton adalah keputusan buruk bagi negara tersebut. Dirinya pun mengkritik upaya Perdana Menteri Najib Razak untuk merayu dari China, menuduhnya menjual aset negara tersebut untuk mengurangi utang. “Saya yakin Proton akan melakukannya dengan baik. Tetapi, saya tidak bangga dengan kesuksesan sesuatu yang bukan milik saya atau negara saya,” katanya.

Proton telah mendominasi pasar mobil dalam negeri segera setelah memperkenalkan model pertamanya, Saga, pada tahun 1985 silam. Perusahaan ini didirikan berkat hibah, sementara mobil impor masih ditawarkan dengan harga selangit. Tahun lalu, Proton hanya mampu menjual 72.000 unit kendaraan, atau hanya sekitar 12,5 persen, di belakang Perodua, yang sebagian dimiliki oleh Toyota, dan Honda.

Loading...