Kondisi Politik Dalam Negeri Belum Stabil, Rupiah Anjlok di Awal Dagang

– Pagi ini, Rabu (23/11) Rupiah mengawali dengan pelemahan 0,11 persen atau 15 poin ke Rp 13.458 per AS. Sebelumnya, rupiah berakhir 37 poin atau 0,28 persen ke posisi Rp 13.443 per dolar AS usai diperdagangkan di rentang Rp 13.380 hingga Rp 13.460 per dolar AS.

Samuel Sekuritas Indonesia mengungkapkan jika para pelaku sedang fokus pada kondisi dalam negeri mendekati pilgub DKI Jakarta. “Pemeriksaan Ahok serta rencana demonstrasi 2 Desember 2016, menjaga ketidakpastian tetap tinggi,” ujar Ekonom Samuel Sekuritas Indonesia, Rangga Cipta, Rabu (23/11).

Pelemahan rupiah pada perdagangan sebelumnya sejalan dengan pelemahan SUN dan penguatan dolar di kawasan Asia. “Akan tetapi terasa stabilitas yang lebih baik di pasar keuangan , sehingga koreksi atas shock seharusnya bisa berlanjut dalam jangka pendek,” ungkap Rangga.

Pasar global sendiri kini diperkirakan tengah menanti hasil notulensi yang akan diumumkan pada Kamis dini hari WIB. “Walaupun dipastikan (Gubernur Fed) Yellen tetap percaya diri dengan kenaikan FFR (Fed Funds Rate) target dalam waktu dekat. Penting diketahui sinyal rencana kenaikan di 2017,” kata Rangga.

Sementara itu Rully Arya Wisnubroto, Analis Pasar Uang Bank Mandiri juga beranggapan bahwa selama kondisi politik Indonesia masih belum stabil, maka akan berpotensi menekan uang Garuda. “Meski demikian, kalau dilihat dari sisi teknikal kans rupiah masih punya peluang menguat,” ujar Rully.

Sedangkan indeks dolar dilaporkan terus melemah meskipun tak terlalu signifikan. Imbal hasil US Treasury 10 tahun juga mengalami penurunan walau masih berada di atas 2,3 persen. Pasar juga tengah menanti indeks AS pada malam ini yang diprediksi naik tipis.

Loading...