Kondisi Global Tak Pasti, Rupiah Lanjut Melemah di Awal Pekan

Rupiah melemah terhadap dolar ASRupiah mengawali transaksi dengan melemah 18 poin atau 0,13% ke level Rp14.138 per dolar AS - www.beritasatu.com

JAKARTA – Ketidakpastian kondisi masih menjadi sentimen negatif bagi pada pembukaan Senin (4/3) ini. Seperti dilaporkan Bloomberg Index, uang Garuda mengawali transaksi dengan 18 poin atau 0,13% ke level Rp14.138 per . Sebelumnya, spot sudah ditutup terdepresiasi 51 poin atau 0,36% di posisi Rp14.120 per pada akhir pekan (1/3) kemarin.

Dari pasar global, indeks dolar AS sebenarnya juga tergelincir pada Senin pagi. Pada pukul 08.31 WIB, mata uang Paman Sam terpantau melemah 0,102 poin atau 0,11% ke level 96,425, melanjutkan pelemahan di pembukaan yang turun 0,185 poin atau 0,19% di posisi 96,342. Sebelumnya, greenback sempat berakhir menguat 0,370 poin atau 0,38%.

“Pergerakan rupiah masih akan dibayangi katalis negatif akibat bertambahnya sentimen ketidakpastian sehingga akan memengaruhi laju pertumbuhan ekonomi global,” ujar Direktur PT Garuda Berjangka, Ibrahim, dilansir Bisnis. “Hubungan AS- yang kembali tegang menyebabkan pelaku pasar khawatir bahwa damai dagang yang selama ini diidamkan bisa buyar.”

Sentimen lain yang berpotensi menahan pergerakan rupiah berasal dari India dan Pakistan, yang menjadi perbincangan hangat baru bagi pasar karena kedua negara tersebut adalah negara yang memiliki reaktor nuklir. India sendiri merupakan negara berkembang yang menjadi negara penting di sehingga ketegangan tersebut bisa menggoyahkan rupiah.

“Sementara itu, dari sisi internal, harga minyak mentah dunia yang kembali di zona hijau akan membebani neraca perdagangan dan transaksi berjalan Indonesia karena biaya impor yang membengkak,” sambung Ibrahim. “Apalagi, transaksi berjalan yang mencerminkan pasokan devisa dari ekspor-impor barang dan jasa menjadi fondasi penting bagi rupiah.”

Sedikit berbeda, Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, malah menuturkan bahwa indeks manufaktur AS yang akhir pekan lalu cuma mencapai angka 54,2. Angka ini masih di bawah konsensus para analis yang sebelumnya melihat potensi indeks manufaktur bisa mencapai level 55,6. Hal tersebut lantas berpotensi menekan greenback sepanjang pekan ini.

Loading...