Kondisi Geografis Indonesia merupakan Tantangan bagi Perusahaan Ekspedisi Logistik

Jakarta – Indonesia, sebuah negara kepulauan dengan lebih dari 13.000 pulau yang membentang sejauh 5.000 kilometer dari timur ke barat. Paparan geografis ini menjadi tantangan tersendiri bagi perusahaan jasa pengiriman barang. Terlebih jika mengingat akses jalan serta sarana transportasi yang dirasa kurang memadai.

Data yang didapat dari World Bank pada tahun 2013 lalu menyebutkan, pengiriman barang di Indonesia setara dengan 27% nilai produk domestik bruto (PDB) . Jumlah ini lebih tinggi dari negara-negara Asean lainnya, seperti (8%), Malaysia (13%), dan Thailand (20%). Tak hanya di daerah terpencil, masalah ekspedisi justru telah dimulai sejak berada di Ibukota Jakarta dengan segala kemacetan dan banjir di sepanjang musim hujan.

Meski begitu, kenyataan ini tak menyurutkan niat perusahaan logistik untuk berlomba-lomba mengais rejeki. Munculnya budaya belanja online yang didukung dengan berdirinya beberapa perusahaan e-commerce besar memberi napas baru bagi sektor ekspedisi logistik. pun dengan tanggap mematok target transaksi e-commerce menjadi USD 130 Miliar pada tahun 2020, dari semula USD 12 Miliar pada tahun 2014.

Tiki JNE, perusahaan logistik besar yang lebih populer disebut JNE, telah membangun jaringan dengan 5.000 kantor cabang lebih di seluruh Indonesia. Diungkapkan oleh CEO JNE Abdul Rahim Tahir, Perusahaan logistik yang menjalankan bisnisnya secara francise ini mengaku masih menemui kendala ketika harus berurusan dengan operator komersial karena mereka hanya mengoperasikan berbadan sempit dengan kapasitas kargo yang sedikit. Demi memuluskan usahanya, JNE telah berencana untuk menginvestasikan sebuah gudang seluas 20.000 meter persegi di dekat Bandara Internasional Soekarno-Hatta, lengkap dengan fasilitas penyortiran otomatis.

, sebagai perusahaan logistik milik negara juga tak mau ketinggalan. telah menjalin kemitraan dengan beberapa perusahaan e-commerce, salah satunya Zalora. bersama Zalora memberikan layanan pengembalian produk gratis melalui hampir 3.000 kantor di lebih dari 100 kota.

Pasar kurir juga tampak menggiurkan bagi sejumlah perusahaan berbasis aplikasi seperti Go-Jek. Go-Jek memfasilitasi pelanggannya untuk berkirim barang melalui jasa driver dengan biaya minimal Rp 15.000. Tak hanya pelanggan individu, Go-Jek juga telah menerima pesanan pengiriman dari operator situs belanja online terkemuka Tokopedia sejak tahun 2015 lalu. Marketplace lain, Lazada, yang membangun jaringan ekspedisi mereka sendiri dengan didukung oleh Rocket .

Ada pula HappyFresh yang menjalankan layanan 1 jam pengiriman berbasis GPS untuk para pelanggannya. CEO HappyFresh Markus Bihler dengan yakin mengklaim layanan 1 jam pengiriman miliknya memiliki tingkat keberhasilan lebih dari 90%.

Gemuruh e-commerce bahkan mengilhami berdirinya perusahaan logistik yang mengkhususkan diri pada aktivitas belanja online. Bekerjasama dengan Lippo Group, aCommerce asal Thailand berupaya menyediakan one-stop shop untuk pengiriman, pemasaran online, dan manajemen gudang. MatahariMall dan Mitra Adiperkasa terdaftar sebagai pelanggan mereka.

Pengamat industri menilai bahwa perbaikan logistik dapat membantu perusahaan e-commerce untuk memasuki pasar dengan lebih mudah. Sayangnya, persaingan yang makin ketat di ranah e-commerce membuat eksistensi beberapa perusahaan tergerus. Perusahaan Retail asal , Rakuten, baru-baru ini mengumumkan rencananya untuk menutup portal bisnis di Indonesia.

“Perusahaan E-commerce berusaha mengurangi biaya mereka, dan enabler, seperti perusahaan berbasis aplikasi, kini telah berkembang,” ujar Mahendra Rianto, Wakil Ketua Umum Asosiasi Logistik Indonesia (ALI). Ia memperingatkan bahwa kurir konvensional akan semakin ditinggalkan jika mereka tidak mau beradaptasi untuk memenuhi kebutuhan perusahaan e-commerce.

Loading...