Kondisi Euro Angkat Dolar, Rupiah Berakhir Merah

Rupiah - economy.okezone.comRupiah - economy.okezone.com

JAKARTA – tidak memiliki tenaga untuk keluar dari area merah pada Kamis (17/1) sore setelah indeks dolar AS relatif bergerak menguat seiring dengan kekhawatiran zona Eropa. Menurut paparan Index pukul 15.57 WIB, Garuda melemah 64 poin atau 0,45% ke level Rp14.192 per dolar AS.

Sementara itu, siang tadi Bank Indonesia menetapkan kurs tengah berada di posisi Rp14.158 per dolar AS, terdepresiasi tipis 4 poin atau 0,03% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.154 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang tidak berdaya versus greenback, dengan pelemahan terdalam sebesar 0,23% dialami rupiah.

Dari , indeks dolar AS bertahan di teritori hijau pada hari Kamis, mengambil keuntungan dari pelemahan yang dialami euro akibat kekhawatiran mengenai prospek pertumbuhan ekonomi di Benua Eropa. Mata uang Paman Sam terpantau menguat 0,130 poin atau 0,14% menuju level 96,189 pada pukul 12.15 WIB, setelah kemarin sudah ditutup naik tipis 0,020 poin atau 0,02%.

Seperti diberitakan Reuters, pada tanggal 10 Januari kemarin, dolar AS hampir jatuh di bawah MA 200-hari karena indeks menyentuh level terendah tiga bulan di posisi 95,029. Tetapi, kemudian greenback berhasil bangkit dan bertahan di zona positif. Mata uang AS mengambil keuntungan dari kejatuhan euro imbas kekhawatiran yang terus-menerus mengenai pertumbuhan ekonomi di Benua Biru.

Data pada minggu ini menunjukkan bahwa Jerman, ekonomi terbesar di Eropa, hampir tidak dapat menghindari resesi, sedangkan Gubernur Bank Sentral Eropa, Mario Draghi, memperingatkan bahwa perkembangan ekonomi di zona tersebut lebih lemah dari yang diharapkan. Dolar AS sendiri sebenarnya diperdagangkan relatif datar terhadap euro di level 1,1388, setelah sempat naik lima sesi beruntun.

Saat ini, yang menarik atensi adalah laporan di Wall Street Journal bahwa jaksa federal AS sedang menyelidiki Huawei Technologies karena diduga mencuri rahasia dagang dari bisnis AS dan dapat segera mengeluarkan dakwaan. Selain itu, pasar juga masih menunggu lebih banyak isyarat dari The Fed setelah semakin banyak pejabat yang menyatakan hati-hati tentang kenaikan lebih lanjut.

“Ada banyak spekulasi bahwa kita telah melihat akhir dari siklus kenaikan suku bunga The Fed dan banyak orang berbicara tentang penurunan suku bunga tahun ini,” kata manajer cabang Tokyo di State Street Bank, Bart Wakabayashi. “Jika kita mengasumsikan bahwa pasar masih menginginkan dolar AS, segala perubahan yang terjadi akan memiliki efek yang cukup tahan lama.”

Loading...