Kompetisi Sengit LCC di Asia Tenggara Pangkas Laba AirAsia

Pesawat AirAsia - www.airlineratings.comPesawat AirAsia - www.airlineratings.com

SINGAPURA – penerbangan bertarif murah, AirAsia, pada Rabu (27/2) kemarin mengumumkan bahwa mengalami penurunan laba sepanjang tahun 2018. Hal tersebut membuat maskapai yang berbasis di Malaysia ini terpaksa menghentikan ekspansi mereka dan cenderung fokus pada rute-rute yang telah dioperasikan, termasuk di Indonesia, Vietnam, dan Filipina.

Seperti diberitakan Nikkei, laba operasional grup tersebut sepanjang 2018 kemarin anjlok 44 persen menjadi 1,21 miliar ringgit atau 297 juta AS. Labah bersih naik 22 persen menjadi 1,98 miliar ringgit, dengan manuver pajak yang melibatkan penjualan pesawat berkontribusi pada kenaikan itu. Selain karena avtur yang lebih mahal, AirAsia juga harus berjuang di seperti Filipina, Indonesia, dan India.

Di segmen LCC (low cost carrier), AirAsia mendapatkan perlawanan sengit dari maskapai seperti Lion Air di Indonesia, Cebu Air di Filipina, dan sejumlah maskapai penerbangan bertarif rendah lainnya. Kompetisi ini telah menyebabkan AirAsia, yang jaringannya membentang dari Thailand dan India ke Jepang, untuk menunda pengejaran pertumbuhan yang cepat.

AirAsia dibeli dengan harga 1 ringgit oleh CEO saat ini, Tony Fernandes, pada tahun 2001 lalu, ketika maskapai itu belum mendominasi langit Malaysia. Setelah itu, mereka memacu pertumbuhan yang cepat di pasar , melampaui maskapai Malaysia Airlines. Dengan pasar asing membatasi investasi oleh pemain luar, AirAsia lantas membentuk usaha patungan lokal di Thailand, Indonesia, dan Jepang.

Seorang pejabat AirAsia bulan ini menegaskan kembali tujuan perusahaan untuk mendirikan cabang di Vietnam pada bulan Agustus mendatang, melalui usaha patungan dengan operator tur Vietnam, Thien Minh Group, demikian menurut media Malaysia. Usaha ini menandai upaya keempat maskapai untuk memasuki negara itu setelah tiga kali ditolak oleh otoritas Vietnam sejak 2005 lalu.

Niat AirAsia untuk melebarkan sayap ke Vietnam bukan tanpa alasan. Permintaan untuk perjalanan udara melonjak di antara kelas menengah Vietnam yang sedang berkembang. Vietjet Aviation, maskapai penerbangan swasta pertama di negara itu, mengklaim 45 persen pangsa penerbangan domestik, dan tampaknya masih memiliki sisa ruang yang cukup banyak.

Meski demikian, Fernandes pada Januari lalu menegaskan bahwa setelah Vietnam, perusahaan tidak akan membuka rute baru, setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Mereka akan memprioritaskan keuntungan di Indonesia dan Filipina. Tahun lalu, AirAsia telah membatalkan rencana untuk mendirikan pangkalan di China dan menunda pendirian cabang di Myanmar dan Kamboja.

Maskapai ini sendiri tengah berupaya meningkatkan efisiensi dalam skala kelompok, dalam upaya digitalisasi operasi dan menyesuaikan rute. Pada akhir Januari, grup meluncurkan pemesanan yang dikembangkan di kantor pusat Malaysia. Hasil dari upaya untuk bersaing di luar biaya, kemungkinan akan terbukti vital bagi perusahaan. “Mempererat hubungan antara grup akan membantu AirAsia mengeluarkan kekuatannya,” kata Peter Harbison, ketua eksekutif CAPA di Australia.

Loading...