Kompak dengan Kurs Asia, Rupiah Berakhir Menguat 17 Poin

Rupiah Menguat - www.inews.id

Rupiah mampu mempertahankan posisi di zona hijau hingga tutup dagang, seiring pergerakan mayoritas mata uang Asia, meski indeks juga bergerak lebih tinggi. Menurut catatan Bloomberg Index pukul 15.59 WIB, mata uang NKRI mengakhiri transaksi Senin (9/4) ini dengan penguatan sebesar 17 poin atau 0,12% ke level Rp13.761 per dolar .

Sebelumnya, rupiah ditutup melemah 11 poin atau 0,08% di posisi Rp13.778 per pada akhir pekan (6/4) kemarin. Pagi tadi, mata uang Garuda mampu bangkit dengan dibuka menguat 8 poin atau 0,06% ke level Rp13.770 per . Sepanjang transaksi hari ini, spot praktis bergerak cukup nyaman di area hijau, mulai awal hingga tutup dagang.

Sementara itu, Bank siang tadi mematok tengah berada di posisi Rp13.771 per dolar AS, tidak berubah dari posisi di sebelumnya. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang Asia perkasa versus greenback, dengan kenaikan tertinggi sebesar 0,4% dialami won Korea Selatan, disusul yuan China yang melonjak 0,3%.

Dari pasar global, indeks dolar AS bergerak naik tipis pada hari Senin, masih tertekan ketegangan dagang AS-China serta nonfarm Paman Sam yang cukup mengecewakan di bulan Maret. Mata uang greenback hanya menguat 0,066 poin atau 0,07% ke level 90,174 pada pukul 11.36 WIB, turun dari level tertinggi satu bulan di 90,579 yang tercipta jelang rilis nonfarm AS.

Seperti dikutip Reuters, China mengatakan bahwa mereka sepenuhnya siap untuk menanggapi dengan ‘serangan balasan sengit’ dari langkah-langkah perdagangan baru jika AS tidak menghentikan ancaman pengenaan pada barang-barang mereka senilai 100 miliar dolar AS. Pernyataan-pernyataan yang semakin agresif dari Washington dan Beijing telah menimbulkan kekhawatiran akan dagang yang dapat melukai ekonomi global.

“Penghindaran risiko muncul kurang intens daripada beberapa minggu yang lalu, sebagian karena harapan untuk negosiasi antara AS dan China menuju solusi pragmatis,” ujar ahli strategi senior untuk Barclays di Tokyo, Shinichiro Kadota. “Tetapi, pada saat yang sama, kenaikan dolar AS kemungkinan akan berat, mengingat kekhawatiran atas perang dagang, serta pergerakan imbal hasil AS dan berakhirnya kenaikan satu arah di saham AS.”

Loading...