Komentar Powell KO Dolar, Rupiah Perkasa di Senin Sore

Rupiah menguat atas mata uang Dolar ASRupiah menguat pada perdagangan Senin (7/1) sore - katadata.co.id

JAKARTA – Tanpa halangan berarti, rupiah mampu melaju nyaman di area hijau pada perdagangan Senin (7/1) sore, ketika isyarat perubahan kebijakan moneter membuat dolar AS terperosok ke zona merah. Menurut laporan Index pada pukul 15.53 WIB, Garuda terpantau menguat 188 poin atau 1,31% menuju level Rp14.082 per dolar AS.

Sementara itu, siang tadi menetapkan tengah berada di posisi Rp14.105 per dolar AS, terbang tinggi 245 poin atau 1,71% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.350 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang Asia perkasa versus greenback, dengan kenaikan tertinggi sebesar 1,72% dialami rupiah, disusul ringgit Malaysia yang menguat 0,6%.

Dari global, indeks dolar AS terus bergerak lebih rendah pada awal pekan, tertekan prediksi investor bahwa Federal Reserve akan segera menghentikan kebijakan pengetatan moneter mereka di tahun 2019. Mata uang Paman Sam terpantau merosot 0,193 poin atau 0,20% menuju level 95,986 pada pukul 12.53 WIB, setelah sebelumnya sudah berakhir melempem 0,126 poin atau 0,13%.

Seperti diberitakan Reuters, pada Jumat (4/1) waktu setempat, Gubernur , Jerome Powell, mengatakan bahwa tidak berada pada jalur kenaikan suku bunga yang telah ditetapkan dan bahwa akan peka terhadap risiko penurunan di dalam pasar. Komentar Powell bahwa ‘siap untuk mengubah kebijakan’ langsung mendorong sentimen investor dan menyebabkan penguatan saham AS di akhir pekan.

“Aliran berita yang telah kita lihat sejak Jumat kemarin telah mengangkat sentimen,” tutur kepala strategi pasar di CMC Markets yang berbasis di Sidney, Michael McCarthy. “Pasar tentu menyukai apa yang dikatakan (Gubernur The Fed) Jerome Powell pada hari Jumat dan itu menimbulkan dampak negatif untuk dolar AS.”

Ekspektasi pasar juga terdorong oleh agenda perundingan AS dan China pada hari ini di Beijing guna mencapai kesepakatan perdagangan yang komprehensif. Pertemuan akan menjadi tatap muka langsung pertama antara kedua negara sejak Presiden dan Presiden Xi Jinping sepakat memasuki periode gencatan senjata 90 hari dalam perang dagang.

Loading...