Klaim Pengangguran AS Turun, Rupiah Berakhir Menguat

rupiah - banjarmasin.tribunnews.comrupiah - banjarmasin.tribunnews.com

JAKARTA – mampu mempertahankan posisi di area hijau pada Jumat (12/3) sore ketika risk appetite global untuk membeli aset keuangan yang lebih berisiko, terdorong data klaim pengangguran AS yang turun. Menurut paparan Index pada pukul 14.59 WIB, Garuda berakhir menguat 20 poin atau 0,14% ke level Rp14.385 per dolar AS.

Sementara itu, berdasarkan data yang diterbitkan pukul 10.00 WIB, acuan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) berada di posisi Rp14.371 per dolar AS, menguat 50 poin atau 0,34% dari transaksi sebelumnya di level Rp14.421 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mata uang bergerak terhadap greenback, dengan kenaikan tertinggi sebesar 0,33% dialami dolar Taiwan dan pelemahan terdalam sebesar 0,31% menghampiri baht Thailand.

“Klaim tunjangan pengangguran awal di AS pada minggu pertama Maret 2021 yang tercatat sebesar 712 ribu orang, lebih rendah dibandingkan ekspektasi sebesar 725 ribu orang, menandakan semakin pulihnya tenaga kerja AS,” tutur Analis Samuel Sekuritas Ahmad Mikail, seperti dikutip dari Viva. “Data tersebut kemungkinan mendorong risk appetite investor global untuk membeli aset keuangan yang lebih berisiko di negara berkembang.”

Dari pasar global, indeks dolar AS, walaupun bergerak lebih tinggi, tetap berada di dekat posisi terendah satu minggu pada hari Jumat karena pasar obligasi yang menenangkan mengangkat sentimen investor dan minat terhadap mata uang Benua Kuning. Mata uang Paman Sam terpantau menguat 0,140 poin atau 0,15% ke level 91,560 pada pukul 11.07 WIB.

Seperti diwartakan Reuters, indeks harga konsumen Februari 2021 yang rendah, 0,4% secara bulanan, membantu meredakan kekhawatiran bahwa peningkatan stimulus fiskal dan kebijakan moneter yang sangat longgar dapat menyebabkan pemulihan AS menjadi terlalu panas. Data ketenagakerjaan mingguan semalam, sementara itu, menambah sinyal positif dari pasar pekerjaan, karena Presiden AS, Joe Biden menandatangani stimulus senilai 1,9 triliun dolar AS menjadi undang-undang.

“Sentimen risiko kembali naik,” tulis kepala strategi valas di National Australia Bank, Ray Attrill, dalam catatan kliennya. “Tingkat bebas risiko 1,5% daripada 1% jelas tidak lagi menjadi masalah bagi aset berisiko, meskipun untuk dolar AS masih terlihat agak prematur untuk menyebut dimulainya kembali tren turun seperti 2020 dengan tingkat keyakinan apa pun.”

Loading...