Klaim Pengangguran AS Tinggi, Rupiah Berakhir Menguat

Rupiah - nasional.tempo.coRupiah - nasional.tempo.co

JAKARTA – mampu menjaga posisi di zona hijau hingga Jumat (18/9) sore setelah klaim tunjangan pengangguran di AS masih terpantau cukup tinggi, menandakan yang belum sepenuhnya pulih. Menurut paparan Index pada pukul 14.59 WIB, Garuda berakhir menguat 98 poin atau 0,66% ke level Rp14.735 per AS.

Sementara itu, data yang dirilis pada pukul 10.00 WIB tadi menempatkan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) berada di posisi Rp14.768 per dolar AS, menguat 0,73% dari sebelumnya di level Rp14.878 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang juga mampu mengungguli greenback, termasuk yuan China, won Korea Selatan, dan ringgit Malaysia.

“Kasus COVID-19 di Indonesia yang dapat dikendalikan dan pembatalan proposal mengenai amandemen UU Bank Indonesia yang dapat memengaruhi independensi bank sentral, bakal menjadi sentimen positif bagi rupiah menjelang akhir tahun,” tutur Head of Asia Research ANZ, Khoon Goh, disalin dari Bisnis. “Saya memperkirakan rupiah pulih hingga akhir tahun, tetapi penguatan masih tergantung dengan sentimen negatif yang ada saat ini.”

Dari global, indeks dolar AS masih berjuang keluar dari zona merah pada transaksi hari Jumat, setelah jatuh semalam karena data AS yang suram membayangi prospek ekonomi, sementara yen Jepang stabil setelah naik terhadap greenback dan euro pada hari sebelumnya. Mata uang Paman Sam terpantau melemah 0,16 poin atau 0,17% ke level 92,810 pada pukul 14.02 WIB.

Dikutip dari Reuters, tekanan terhadap greenback datang setelah data ekonomi terbaru Negeri Paman Sam menunjukkan angka yang mengecewakan. Pada minggu yang berakhir 12 September, klaim tunjangan pengangguran di AS tetap tinggi mencapai 860.000, sedangkan pembangunan perumahan dan indeks bisnis Fed Philadelphia turun.

“Semalam, dolar AS turun hampir terlalu banyak terhadap yen, meskipun juga sudah jatuh sejak Senin (14/9),” kata kepala strategi mata uang di Mizuho Securities, Masafumi Yamamoto. “Kerugian di saham berjangka AS juga berkontribusi terhadap melemahnya greenback. Agar dolar AS mendapatkan kembali tren kenaikannya, pasar perlu memastikan bahwa saham AS mengambil jeda dari koreksi harga.”

Loading...