Klaim Pengangguran AS Meroket, Rupiah Berakhir Menguat

Rupiah - news.okezone.comRupiah - news.okezone.com

JAKARTA – berhasil menjaga posisi di area hijau pada perdagangan Jumat (11/12) sore, memanfaatkan pelemahan greenback setelah klaim tunjangan pengangguran Negeri Paman Sam dilaporkan melonjak. Menurut paparan Index pada pukul 14.59 WIB, mata uang Garuda berakhir menguat 25 poin atau 0,18% ke level Rp14.080 per .

Sementara itu, data yang diterbitkan Bank Indonesia pukul 10.00 WIB tadi menempatkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) berada di posisi Rp14.102 per AS, menguat 28 poin atau 0,19% dari transaksi sebelumnya di level Rp14.130 per AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang sukses mengungguli greenback, menyisakan peso Filipina dan won Korea Selatan yang harus terdepresiasi.

“Pergerakan rupiah ditopang oleh pengadaan vaksin, baik di dalam maupun . Dari , beberapa negara telah melakukan tahap penyuntikan vaksin seperti Inggris, China, dan juga ,” papar ekonom CORE, Yusuf Rendy Manilet, dilansir dari . “ ini membuat investor optimistis dapat melihat prospek pemulihan ekonomi yang berada pada jalur yang tepat.”

Dari global, dolar AS tertekan pada hari Jumat, menyusul data terbaru yang menunjukkan klaim tunjangan pengangguran AS secara mingguan mengalami lonjakan mendekati level tertinggi tiga bulan, bukti lebih lanjut bahwa meningkatnya infeksi COVID-19 dan kurangnya fiskal tambahan stimulus merugikan perekonomian. Mata uang Paman Sam terpantau cuma naik tipis 0,006 poin atau 0,01% ke level 90.830 pada pukul 14.53 WIB.

Kamis (10/12) waktu setempat, Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan bahwa klaim tunjangan pengangguran AS melonjak menjadi 853.000 dalam pekan yang berakhir 5 Desember, menyusul revisi naik 716.000 pada minggu sebelumnya. Data itu sekaligus melampaui perkiraan Dow Jones di angka 730.000 serta menjadi jumlah klaim awal tertinggi sejak September 2020.

“Lonjakan baru-baru ini menunjukkan bahwa klaim tidak hanya mandek, tetapi juga secara aktif memburuk,” kata ekonom senior di situs penempatan kerja Glassdoor, Daniel Zhao, dikutip dari CNBC. “Lonjakan klaim awal terutama mengkhawatirkan saat klaim masih di atas level di dekat puncak Resesi Hebat (Great Depression).”

Loading...