Perdagangan Bebas dengan Mauritius Berlaku, Apa Keuntungan China?

Pertemuan Presiden China dan PM Mauritius - chindonews.blogspot.com

JAKARTA – Perjanjian (free trade agreement atau FTA) antara dan Mauritius mulai berlaku pada Jumat (1/1) kemarin, menandai FTA pertama antara Negeri Panda dan sebuah negara di . Sejumlah analis berpendapat, menjadi pihak yang paling diuntungkan dengan kesepakatan tersebut karena ada ketidakseimbangan perdagangan yang besar antara kedua negara.

Dilansir dari TRT World, kesepakatan tersebut muncul setelah beberapa tahun negosiasi, karena Mauritius bertujuan untuk memosisikan dirinya sebagai perantara antara China dan daratan Afrika. Ditandatangani pada 17 Oktober 2019, perjanjian awalnya bertujuan untuk memperdalam hubungan ekonomi dan perdagangan, sambil juga membawa ‘ide-ide baru ke dalam kemitraan strategis komprehensif China-Afrika ke China’, demikian menurut Kementerian Perdagangan China.

“Pertanyaannya adalah siapa yang benar-benar diuntungkan,” ujar Kepala Program Afrika di Chatham House, Alex Vines, kepada TRT World. “Saya dapat melihat bahwa Tiongkok akan mendapat manfaat yang signifikan. Ada ketidakseimbangan perdagangan besar-besaran antara Mauritius dan China, dan kita harus melihat seberapa besar Mauritius.”

Hubungan persahabatan antara Beijing dan Port Louis dimulai 1972, dan kedua negara telah menikmati hubungan ekonomi dan budaya yang kuat sejak saat itu, terutama dalam bentuk investasi China ke dalam proyek dan pendirian pusat budaya pertama mereka di luar negeri. Terlepas dari hubungan jangka panjang dan peningkatan keseimbangan -impor, asimetri perdagangan tetap ada.

“Saya pikir kemenangan nyata bagi Mauritius, jika ada, akan menggunakan Mauritius sebagai platform untuk ekspor China ke daratan Benua Afrika,” sambung Vines. “Itulah mengapa China telah menyetujui FTA pertama dengan Mauritius, karena ini adalah batu loncatan, pada dasarnya menuju Afrika yang lebih luas.”

China sendiri telah meningkatkan jejaknya di Afrika, menjadi salah satu pemain paling berpengaruh di benua itu sejak dimulainya Forum Kerja Sama China-Afrika (FOCAC) pada tahun 2000. Volume perdagangan antara benua itu dan Negeri Panda telah meningkat lebih dari 18 kali lipat sejak 2002 hingga 2018, selain peningkatan kehadiran dan pelatihan militer, proyek infrastruktur, dan bidang pengaruh lainnya, yang telah dikritik dan disambut baik oleh negara-negara Afrika dan warganya.

Negeri Panda saat ini merupakan pasar impor nomor satu Mauritius, 16,7 persen dari pasokan impornya. Diikuti oleh India (13,9 persen) dan Afrika Selatan (8,1 persen), yang sebelumnya telah bekerja untuk menyelesaikan FTA dengan Mauritius. “Ada persaingan geopolitik yang signifikan antara India dan China, dan India memang melihat Mauritius sebagai bagian dari negara terdekatnya,” sambung Vines.

“Saya pikir orang Mauritius mungkin menyadari bahwa mereka telah menumbuhkan hubungan dengan India sebesar yang akan mereka dapatkan, dan itulah mengapa melakukan diversifikasi untuk mendapatkan investasi lebih lanjut dari negara-negara dan China,” tambah Vines. “Ekonomi terkemuka dunia seperti China (mungkin) salah satu tempat mereka ingin melihat peningkatan partisipasi pasar.”

Samudera Hindia telah dijuluki sebagai lokasi baru ‘Great Game’, dengan tiga pemain global utama, India, China, dan AS, bersaing untuk mendapatkan pengaruh ekonomi, militer, dan geopolitik. Samudera Hindia berada di persimpangan perdagangan maritim global. Lebih dari 64 persen perdagangan minyak dunia melewati lautan tersebut. Wilayah ini juga kaya akan perikanan dan mineral seperti nikel, besi, mangan, tembaga, seng, perak, dan timah, serta memiliki populasi gabungan lebih dari 2 miliar orang, sumber tenaga kerja dan pertumbuhan ekonomi yang masif.

Baik China maupun India bergantung pada sumber daya energi yang melintasi Samudera Hindia, dan telah meningkatkan jejak kaki mereka di wilayah tersebut untuk mengamankan dan mempertahankan akses mereka. Selain itu, perkembangan keamanan di kawasan, termasuk konflik, pembajakan di Tanduk Afrika, persaingan antara China, India, Pakistan, dan AS, telah menyebabkan peningkatan penempatan pasukan militer oleh para kekuatan global utama.

Belt and Road Initiative China bertujuan untuk menghubungkan dan mengembangkan infrastruktur yang menghubungkan Afrika Timur, Asia, dan Samudera Hindia, meskipun perkembangannya juga mengarah pada militerisasi yang lebih besar dan sekuritisasi geografi. Sementara, AS sedang menjajaki strategi penyeimbangan lepas pantai melalui India, dan baru-baru ini mengumumkan keinginan untuk membuat armada Indo-Pasifik baru guna melawan Beijing.

Loading...