Ketimpangan Pendapatan Ancam Pertumbuhan Ekonomi China

Ekonomi China - www.kaskus.co.idEkonomi China - www.kaskus.co.id

BEIJING – Sebagai salah satu ekonomi terbesar di dunia, di saat ini terancam dengan ketidakseimbangan pendapatan antara atas dan menengah ke bawah yang semakin meningkat. Meningkatnya kesenjangan kekayaan tersebut juga melahirkan ketidakpuasan publik terhadap pemerintah pusat, sekaligus mengancam upaya untuk mengambil alih peran sebagai penggerak utama ekonomi.

Seperti dikutip dari Nikkei, koefisien Gini China atau ukuran ketimpangan ekonomi, meningkat sebesar 0,002 menjadi 0,467 pada tahun 2017 lalu, menurut National Bureau Statistics. Angka ini lebih banyak 0,005 dibandingkan tahun 2015, yang sebelumnya terus mengalami tren penurunan. Koefisien, yang berkisar antara 0 sampai 1, sekarang meningkat kembali, yang menandakan ketidakmerataan semakin melebar.

Penghasilan pegawai kelas atas di China, kelas terkaya dari lima kelas sosial yang digunakan untuk mencatat pendapatan, tumbuh 9,1 persen pada tahun 2017, atau 0,8 persen lebih banyak dari tahun sebelumnya. Sementara, kalangan menengah ke atas, menengah, dan bawah, masing-masing meningkat 7,7 persen, 7,2 persen, dan 7,1 persen. Angka ini adalah 0,6 poin sampai 1 poin lebih rendah dari tahun sebelumnya. Meski demikian, penghasilan disposisi kelas bawah meningkat 1,8 poin, yang menandakan bahwa anti-kemiskinan memiliki beberapa efek positif.

Gelembung real estate merupakan utama dalam kesenjangan pendapatan masyarakat China. Harga properti meningkat sejak tahun 2015 setelah pemerintah melonggarkan persyaratan untuk pinjaman rumah, yang bertujuan mengurangi kelebihan stok perumahan. Banyak orang kaya di China yang akhirnya mendapatkan keuntungan dari lonjakan harga ini. Dalam survei pendapatan tahun 2017, pendapatan dari aset naik 11 persen, mencatat pertumbuhan dua digit untuk pertama kalinya dalam tiga tahun.

Sebaliknya, pembatasan pekerja migran pedesaan di pusat kota membatasi pertumbuhan upah kalangan bawah. Kota-kota seperti Beijing dan Shanghai telah ‘memaksa’ pekerja ini untuk keluar dalam beberapa tahun terakhir, termasuk dengan menghancurkan struktur ilegal tempat mereka tinggal. Akibatnya, populasi di kota-kota ini menurun, yang merupakan penurunan pertama Beijing dalam dua dekade.

“Sebenarnya, ketidaksetaraan umumnya menurun saat petani pindah ke kota dan mengambil pekerjaan di sektor lain,” ujar chairman of China’s National Social Security Fund Council, Lou Jiwei, dalam sebuah pidato pada bulan Januari lalu. “Namun, pergerakan orang-orang di China tetap dibatasi, yang akhirnya memperluas perbedaan pendapatan.”

Kesenjangan yang meluas ini dapat membahayakan rencana Presiden Xi Jinping untuk melakukan reformasi struktural yang bertujuan membuat konsumsi sebagai pendorong utama pembangunan. Pertumbuhan konsumsi pribadi telah melambat 1,4 poin menjadi 5,4 persen di tahun 2017 karena penjualan barang lebih lemah, seperti ponsel cerdas dan .

Perbaikan memang telah difokuskan untuk kelas menengah dan bawah dengan tujuan akhir pertumbuhan yang cepat. Namun, orang kaya semakin kaya karena harga aset, seperti real estate dan saham, yang berkembang. Masyarakat pun semakin kecewa dengan anggapan bahwa semua pada akhirnya akan menjadi kaya raya, yang mengancam stabilitas sosial. Xi berusaha untuk mengatasi hal ini dengan menindak korupsi dan mengusir pejabat partai yang kaya dengan cara tidak sah. Namun, kecuali nyata dilakukan untuk menciptakan sistem redistribusi kekayaan yang lebih baik, kemarahan massal atas ketidaksetaraan ekonomi yang berkembang akan terus mendidih.

Loading...