Ketenagakerjaan Jadi Masalah Penting dalam Pertumbuhan Ekonomi Asia

Walaupun terjadi perlambatan ekonomi di China, pasar berkembang di terus memimpin untuk sebagian besar multinasional. Namun menghadapi berbagai tantangan untuk bertahan di tengah krisis saat ini, di antaranya masalah ketenagakerjaan yang membatasi kemampuan manajer untuk mempekerjakan orang yang tepat.

Perusahaan-perusahaan di Asia perlu melakukan lebih banyak hal untuk menanamkan keragaman gender ke dalam bisnis dan menciptakan budaya yang kondusif untuk kemajuan karier bagi perempuan. Menurut Organisasi Buruh Internasional, ada sekitar sepertiga dari potensi global yang tidak bekerja karena berbagai faktor budaya dan sosial.

Berdasarkan studi Indeks Kapital Manusia ditemukan bahwa banyak negara di Asia yang memiliki pasokan yang kurang untuk tenaga kerja ideal. Misalnya saja India yang menduduki peringkat 105 dari 130 negara yang diteliti, kemudian Indonesia 72 dan China 71.

Selain itu, perusahaan yang mencari keterampilan khusus harus berinvestasi dengan mempekerjakan tenaga kerja dari kawasan lain seperti dari Eropa atau Utara. Dalam 5 tahun terakhir, Asia telah mengalami peningkatan dalam perekrutan dan gaji rata-rata. Namun menurut survei terbaru Kompensasi Perencanaan 2017 Mercel, mayoritas perusahaan melaporkan tidak ada perubahan untuk jumlah tenaga kerja yang ada.

Sedangkan biaya tenaga kerja saat ini telah meningkat lebih cepat dari pertumbuhan produktivitas di sebagian besar perekonomian Asia. Hal ini dapat mengakibatkan tekanan tambahan pada margin bagi perusahaan yang beroperasi di Asia.

Perusahaan pun mulai menggunakan dan analisis tenaga kerja untuk mengembangkan rencana kerja strategis, berdasarkan persyaratan keterampilan di masa depan. Hal ini menyebabkan pergeseran secara bertahap tentang bagaimana gaji dasar diatur serta pembiayaan bonus karyawan.

Loading...