Keserakahan Diri Masih Dominan, Bagaimana Mengatasinya?

Uang (dan harta) menjadi salah satu hal yang diimpikan banyak orang di . Bahkan, beberapa di antara mereka masih merasakan kondisi tidak cukup meski sudah memiliki banyak harta.

“Orang-orang masih ingin memiliki banyak hal karena itu dapat membuat mereka merasa hidup selamanya,” jelas Psikolog asal , Sheldon Solomon. “Dan, saya percaya bahwa materialisme serta konsumerisme saat ini akan memiliki konsekuensi yang tidak sedikit.”

Ditambahkan Solomon, konsekuensi dari keserakahan tersebut adalah siapa pun yang gagal untuk memenuhi keinginannya bakal dianggap sebagai pecundang. “Namun, apakah ‘The Greed Program’ yang membuat kita mendambakan harta, status, dan kekuasaan ini bakal mencapai batas akhir?” sambung Solomon.

Untuk mencari tahu tentang esensi keserakahan ini, kita dapat mengambil contoh mantan bankir , Rudolf Elmer. Dia tahu banyak tentang uang atau nafsu untuk uang, lebih tepatnya. Dia lalu mencela keserakahan yang banyak diterapkan di -bank Swiss.

Lalu, mengapa kita peduli tentang bagaimana orang lain memiliki lebih dari apa yang kita miliki, meski kita benar-benar sudah tercukupi? “Karena, tidak ada yang bisa mengklaim tentang kecukupan,” kata kaya raya asal Zimbabwe, Philip Chiyangwa.

“Saya punya pikiran itu (uang) di dalam kepalaku,” sambungnya. “Saya bahkan akan membuat uang ketika Anda membuang saya di padang gurun.”

Memang, mencari solusi untuk mengatasi keserakahan yang tidak pernah puas bukan perkara yang gampang. Solomon menyarankan agar kita bisa berdamai dengan motif bawah sadar kita sendiri, seperti kredo dari Greenland yang mengatakan “hanya dengan mencairkan es di hati, maka kita memiliki kesempatan untuk berubah”.

Loading...