Kerap Dipakai Kusen Pintu & Jendela, Harga Aluminium YKK Per Batang Mulai Rp 100 Ribuan

Aluminium YKK - www.karuniapratama.comAluminium YKK - www.karuniapratama.com

Dewasa ini masyarakat Indonesia mulai mempertimbangkan penggunaan aluminium sebagai kusen atau bingkai dari jendela dan pintu supaya lebih muda dibuka-tutup. Sebelumnya kusen lebih didominasi dari kayu atau UPVC. Harga kusen per batang dari aluminium biasanya relatif lebih murah dari kayu, selain itu aluminium memiliki kandungan yang tahan keropos dan anti rayap.

Di ada berbagai aluminium yang diperjual-belikan, misalnya merk Dacon atau DC, Alexindo, Alcomexindo, maupun YKK. Harga aluminium YKK per batang ukuran 3 inch antara Rp 100 ribuan hingga Rp 145 ribuan per meter, kemudian harga aluminium batangan ukuran 4 inch harganya sekitar Rp 120 ribuan hingga Rp 155 ribuan.

Harga aluminium YKK biasanya bukan hanya ditentukan berdasar ukurannya saja, tetapi juga warnanya. Aluminium YKK tersedia dalam beberapa pilihan , antara lain silver, hitam, coklat, dan putih susu. Sesuai dengan urutannya, aluminium YKK silver adalah yang termurah, kemudian di atasnya ada hitam, kemudian cokelat, dan varian yang termahal adalah putih susu.

Tak hanya dimanfaatkan sebagai kusen jendela atau pintu, aluminium batangan kini juga kerap digunakan untuk membuat etalase, gerobak, atau lainnya. Bahkan kabarnya peminat furnitur dari bahan aluminium ini terus meningkat dari tahun ke tahun. Salah seorang pemilik usaha kerajinan berbahan alumunium pun mengaku mampu meraup omzet hingga ratusan juta setiap bulan.

Pemilik toko Hary Alumunium Bersaudara (HAB) di Kabupaten Solok, Nofi Hendra mengaku tiap harinya dapat memproduksi 10 unit furniture dari aluminium seperti lemari rak piring, etalase, gerobak, dan sebagainya. “Alhamdulillah kita tetap kebanjiran pesanan, paling pada saat Ramadan kemarin (2016) memang pesanan agak turun sekitar 5 persen dari bulan biasanya,” ujar Nofi, seperti dilansir Kabarsumbar.

Ketika awal merintis usaha tahun 2010, Nofi mengaku belum tampak kemajuan yang signifikan. Akan tetapi di tahun-tahun berikutnya usaha tersebut mampu tumbuh rata-rata minimal 150% per tahun. “Awal merintis usaha di sini (Solok) modal awal saya kurang dari Rp 25 juta. Alhamdulillah sekarang aset saya sudah hampir mencapai Rp 8 miliar, dengan omzet rata-rata Rp 300 juta hingga Rp 400 juta per bulannya,” katanya.

Loading...