Kerap Digunakan Untuk Budidaya Ikan Lele, Harga Jaring 1 Roll Rp35 Ribuan

Harga, jaring, waring, ikan, lele, budidaya, tambak, roll, per, meter, panjang, lebar, anyaman, plastik, nets, biofloc,Kerap Digunakan Untuk Budidaya Ikan Lele, Harga Jaring 1 Roll Rp35 Ribuan (kampoengilmu.com)

Salah satu keahlian untuk menjadi adalah harus mampu menangkap ikan, bahkan bisa membuat alat untuk menangkap ikan sendiri. Di Indonesia sendiri, ada banyak alat penangkap ikan yang sering digunakan , salah satunya adalah jaring.

Umumnya ada dua macam jaring, yakni jaring insang dan jaring angkat. Jaring insang adalah alat untuk menangkap ikan berbentuk persegi panjang dengan mata jaring berukuran sama dan dilengkapi dengan pelampung pada bagian atas, serta pemberat di bagian bawah. Model jaring yang satu ini digunakan untuk menangkap ikan yang bergerak secara pasif. Tapi dalam operasinya, biasanya para nelayan memasang beberapa alat yang digabung menjadi satu unit jaring yang cukup panjang.

Sementara jaring angkat adalah alat untuk menangkap ikan yang dalam pengunaannya dilakukan dengan cara menurunkan dan mengangkat jaring secara vertikal. Alat ini biasanya dibuat dari nilon yang mirip kelambu dengan mata jaring yang relatif kecil. Umumnya, dalam pengoperasiannya menggunakan lampu atau umpan lainnya untuk menarik ikan. Alat ini biasanya juga dioperasikan di rakit, perahu, dan sejenisnya.

Dalam berbudidaya ikan lele, juga dikenal satu alat bernama waring. Waring ini merupakan jejaring yang dibentuk dari anyaman plastik atau net atau snare nets. Alat yang satu ini memiliki fungsi dan kegunaan yang luar biasa, yang mana dapat digunakan untuk keperluan tambak ikan atau biasa disebut water net. Biasanya, 1 rol waring lebar 120 cm dan panjang 100 meter dijual dengan harga Rp35 ribuan.

Saat ini, dalam membudidayakan lele juga dikenal dengan metode biofloc. Ketua Marine Center Ika Unpad Imam Kadarisman mengatakan biofloc merupakan ikan lele melalui proses penumbuhan dan mikroorganisme. Caranya adalah dengan mengolah limbah hasil budidaya.

“Kami mencoba menghilirisasi studi-studi baik dari fakultas maupun universitas sehingga menjadi aktivitas nyata. Ini merupakan hasil kerja sama antara Pusat Studi Wirausaha Disip, Marine Center Ika Unpad, FPIK, dan perusahaan keramba jaring apung Stargold. Dengan budidaya lele biofloc terpal, harapannya adanya , kuantitas, kontinuitas. Pola kerjasama ini diharapkan bisa diimplentasikan di kabupaten dan provinsi lain, sehingga tercapai untuk terpenuhinya kesediaan protein hewani,” ujarnya kepada Tribunnews.

Slamet Usman, Ketua Pusat Studi Kewirausahaan Fisip Unpad, mengatakan program ini diharapkan bukan saja menjadi pusat pembelajaran dan penelitian bagi civitas akademika, tetapi juga diharapkan menjadi pilot project bagi pengembangan wirausaha baru di berbagai daerah. Produk yang dihasilkan harus dikembangkan secara kreatif untuk menghasilkan produk turunan yang mampu menjadi identitas bagi daerah pengembangnya.

“Masyarakat Indonesia baru mengonsumsi 38 kg per tahun, sementara ASEAN lain sudah di atas 60 kg per tahun. Jadi diharapkan dengan adanya hasil kerjasama /kolaborasi, ke depan mampu melakukan stabilisasi harga dalam tata niaga ikan lele. Juga merangsang fresh graduate atau sarjana yang baru lulus untuk menjadi wirausahawan baru,” kata Slamet.

Loading...