Kerap Digunakan Saat Pertunjukan Marawis, Harga Dumbuk Batu Polos Mulai Rp300 Ribuan

Harga, dumbuk, batu, polos, pinggang, di, pasaran, toko, alat, perlengkapan, musik, marawis, Islam, perayaan, hari raya, pemain, tarian, dijual, gendang, bentuk, jenis, jimbe, perkusi, permainan, pertunjukan, diameter, irama, budaya, lokal, samhar, laki, kelompok, nuansa, etnis, betawi, arabDumbuk batu polos (sumber: Bukalapak)

Pada perayaan Hari Raya Idul Fitri, marawis seringkali dimainkan. Marawis adalah alat- yang dibawa oleh para saudagar Islam dari Yaman. Belakangan, marawis beradaptasi dengan budaya lokal dan mulai dimainkan oleh musik marawis di Ibu Kota.

Asal mula marawis berkembang di Jakarta, diperkuat keterangan Usman Sofiyan. Menurut Usman yang tak lain pengasuh Grup Marawis Asy-Syafagoh, perkembangan marawis bermula di kampung-kampung yang memang bernuansa Islam. Tepatnya, perkampungan yang penduduknya campuran etnis Betawi dan Arab. “Di sanalah berkembangnya gambus dan marawis,” ungkap Usman kepada Liputan6.com

Adapun pola permainan marawis sangat sederhana, namun dibutuhkan konsentrasi tinggi. Para pemain yang harus saling mengisi nada membuat permainan marawis terlihat rumit. Teknik ini di kalangan pemain marawis dikenal dengan istilah ‘tanya dan jawab’. Nah, dari pola permainan inilah lahir tiga bentuk irama atau pukulan dalam marawis, yakni sarah, zahefa, dan zapin.

Permainan marawis semakin berkembang dari bentuk asalnya, seiring dengan bertambahnya alat musik modern, seperti biola dan keyboard. Marawis juga kerap digunakan untuk mengiringi tarian samhar. Tarian ini hanya dibawakan oleh laki-laki yang juga merupakan anggota dari kelompok marawis tersebut.

Ada manfaat lain dari marawis. Kesenian yang didominasi perkusi ini dapat mencegah para pemainnya terpengaruh hal-hal yang negatif. Ini dibenarkan Ahmad Fairuz. Ketua Kelompok Marawis Asy-syafagoh mengatakan, marawis dapat memotivasi para pemainnya untuk menjauhi pergaulan yang tidak benar. Faedah lainnya, si pemain dapat mengembangkan kesenian bernuansa Islami.

Sedangkan bagi kebanyakan pemain marawis, pertunjukan mereka adalah amal. Semakin sering mereka manggung, maka kian banyak amal yang diperoleh. Lantaran itulah, mereka tidak pernah meminta bayaran untuk sebuah pertunjukan.

Secara Umum, alat musik yang ada dalam marawis terdiri dari hajir (gendang besar) berdiameter 45cm dengan tinggi 60-70cm, marawis (gendang kecil) berdiameter 20cm dengan tinggi 19cm, dumbuk atau jimbe (sejenis gendang yang berbentuk seperti dandang, memiliki diameter yang berbeda pada kedua sisinya), serta dua potong kayu bulat berdiameter sepuluh sentimeter. Kadang kala perkusi dilengkapi dengan markis atau krecek simbal yang berdiameter kecil.

Dumbuk yang digunakan dalam marawis terdiri dari dua , yakni dumbuk pinggang dan dumbuk . Dumbuk pinggang adalah sejenis gendang yang bentuknya mirip dandang, bagian tengah dan kedua ujungnya memiliki diameter yang berbeda-beda. Diameter terbesar pada ujung yang ditutup dengan selaput/membran dari mika, kemudian disusul bagian ujung yang terbuka, sedangkan pada bagian tengah memiliki diameter terkecil. Dinamakan dumbuk pinggang karena ketika memainkan alat ini diletakkan di pinggang.

Sementara, dumbuk batu memiliki kemiripan dengan dumbuk pinggang, hanya saja mempunyai ukuran yang sedikit lebih besar. Disebut dumbuk batu karena konon pada awalnya terbuat dari batu.

Di pasaran, sudah banyak sejumlah toko alat musik online maupun offline yang menjual untuk marawis. Dumbuk batu polos dengan harga yang beragam, mulai Rp325.000 sampai Rp600.000. Untuk jenis dumbuk pinggang dengan harga yang lebih murah, yakni mulai Rp100 ribuan.

Loading...