Harga Anjlok Imbas COVID-19, Anggota OPEC+ Patuhi Pemangkasan Produksi Minyak?

Tambang Minyak - www.needpix.comTambang Minyak - www.needpix.com

RIYADH/MOSKOW – -negara OPEC+ telah sepakat untuk memotong mentah hingga 9,7 juta barel per hari atau 10% dari total pasokan global pada Mei dan Juni, dalam rangka mengatrol kembali yang sudah dihantam penurunan akibat wabah virus corona. Namun, sejumlah analis menyangsikan beberapa negara bisa mematuhi kesepakatan tersebut, termasuk Rusia, Irak, Nigeria, dan Kazakhstan.

Dilansir dari Deutsche Welle, pandemi COVID-19, yang sudah membuat global macet, telah menghancurkan hingga 30% dari permintaan minyak global. Ini akhirnya menyebabkan kelebihan pasokan, memberikan tekanan pada kapasitas penyimpanan global, yang diprediksi oleh beberapa analis akan berlangsung hingga akhir Juni. Prospek yang mengerikan mendorong beberapa anggota OPEC, termasuk Arab Saudi dan Kuwait, untuk memulai pemotongan produksi pada pekan lalu.

Namun, bahkan sebelum pemangkasan produksi secara resmi dimulai pada hari Jumat (24/4), analis telah mulai menimbang masalah yang terus-menerus mengganggu 23 anggota OPEC sejak tahun 2016, terutama kepatuhan yang buruk. Beberapa anggota aliansi, termasuk Rusia, sering gagal mematuhi pemotongan output yang mereka janjikan, membuat frustrasi anggota lain seperti Arab Saudi sehingga terpaksa menurunkan produksi dengan lebih besar.

“Dalam jangka pendek, kepatuhan tinggi dapat diharapkan dari sebagian besar anggota, hanya karena pemotongan dalam kebanyakan kasus harus keluar dari alasan komersial dan logistik daripada pertanyaan politik,” tutur direktur pelaksana di JBC Energy, David Wech. “Dengan kata lain, kurangnya penjualan dan tank-tank besar akan memaksa pemangkasan pasokan.”

Sebagian besar kepatuhan untuk mengurangi output produksi OPEC+ akan tergantung pada kinerja anggota non-OPEC, yang memiliki rekam jejak kepatuhan yang samar. Sepuluh negara, termasuk Meksiko dan Kazakhstan, telah setuju untuk mengasumsikan sekitar 40% dari total pemotongan. Sorotan kemungkinan akan berpusat di Rusia, yang telah berjanji untuk mengurangi produksi sebesar 2 juta barel menjadi 8,5 juta barel per hari.

“Penurunan produksi sukarela adalah suatu keharusan di bawah situasi pasar saat ini. Kalau tidak, itu akan terjadi secara alami dalam beberapa bulan ke depan karena fasilitas penyimpanan minyak mentah kehabisan kapasitas,” tutur kepala urusan pengaturan di Vygon Consulting yang berbasis di Moskow, Darya Kozlova. “Penutupan yang tidak direncanakan tersebut dapat merusak sejumlah besar sumur minyak yang dijalankan oleh perusahaan-perusahaan Rusia.”

Masalahnya, mematuhi kuota ini akan menjadi masalah besar bagi Negeri Beruang Merah, terutama pada Mei dan Juni. Bjarne Schieldrop, kepala analis komoditas di SEB Markets Swedia, mengatakan bahwa kargo minyak Rusia yang dijadwalkan untuk Mei mengindikasikan bahwa mereka hanya akan mengurangi produksi sebesar 0,6 juta barel per hari. “Rusia mengurangi hingga 8,5 juta barel per hari terdengar mustahil. Sulit bagi mereka memotong tanpa merusak produksi,” ujarnya.

Sebagian besar sumur minyak Rusia adalah sumur tua dan matang, yang lebih rumit untuk ditutup dan dibawa kembali secara online daripada sumur di Teluk Persia. Prosesnya tidak hanya mahal, tetapi juga risiko yang menyebabkan kerugian hasil yang permanen. Samuel Burman dari Capital Economics mengatakan, Rusia akan merasa sulit untuk mengoordinasikan pemotongan pasokan sebesar ini karena beberapa perusahaan swasta yang terlibat. Namun, ia mengharapkan kepatuhan Rusia meningkat pada akhir tahun ini karena permintaan minyak yang lemah di Eropa.

Burman juga mengharapkan kepatuhan yang lebih baik dari pelanggar berulang seperti Nigeria, Irak, dan Kazakhstan. Kurangnya kapasitas penyimpanan membuat Nigeria sangat rentan terhadap perlambatan permintaan. Negara ini hanya memiliki 1,5 hingga 2 hari penyimpanan produksi harian yang tersedia, menurut HIS Markit. Ia sendiri berharap melihat Irak dan Nigeria memangkas produksi sebesar 10% pada akhir Juni.

“Kesepakatan (OPEC+) tercapai hanya 3 minggu sebelum 1 Mei. Banyak anggota di OPEC + pada saat itu sudah menjual dan mengontrakkan semua atau sebagian besar penjualan minyak mereka untuk Mei dan Juni,” timpal Schieldrop. “Ini normal di pasar minyak karena masa tenggang yang lama dan akhirnya menyulitkan banyak anggota untuk mundur dan mengurangi produksi pada Mei dan Juni.”

OPEC+ telah sepakat bahwa pengurangan 9,7 juta barel per hari akan diikuti oleh pengurangan 7,7 juta barel untuk sisa tahun 2020, kemudian oleh pemotongan 5,8 juta barel per hari antara 1 Januari 2021 hingga 30 April 2022. Analis sendiri tidak mengharapkan Arab Saudi untuk mengurangi produksinya lebih dari bagiannya, seperti yang telah dilakukan di masa lalu untuk mengimbangi kelebihan produksi oleh Rusia dan lainnya.

“Kepatuhan penuh atau kepatuhan 70%, dalam jangka pendek, itu tidak masalah. Surplus masih akan sangat besar,” tambah Schieldrop. “Namun, dalam jangka menengah, pada Juni atau Juli, kita cenderung melihat permintaan minyak global kembali ke 90% dari 70-75% pada waktu sekarang. Lalu, termasuk pemotongan oleh OPEC+ selain penurunan produksi non-OPEC+ dari 2-3 juta barel per hari, kita akan lebih dekat ke pasar yang seimbang, dan itu mungkin akan menjadi masalah.”

Loading...