Keok di Angka Rp 14.149/USD, Rupiah Diprediksi Melemah Sampai Akhir Pekan

Rupiah melemah - www.cnbcindonesia.comRupiah melemah - www.cnbcindonesia.com

Jakarta – Kurs rupiah mengawali perdagangan pagi hari ini, Rabu (3/7), dengan pelemahan sebesar 10 poin atau 0,07 persen ke posisi Rp 14.149 per AS. Sebelumnya, Selasa (2/7), nilai tukar Garuda berakhir terdepresiasi 26 poin atau 0,19 persen ke level Rp 14.139 per USD.

Sementara itu, indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the terhadap mayoritas uang utama terpantau melemah. Pada akhir perdagangan Selasa atau Rabu pagi WIB, indeks dolar AS dilaporkan turun 0,11 persen menjadi 96,7318 lantaran manufaktur Amerika Serikat yang lemah menunjukkan risiko penurunan .

Di sisi lain, Analis Trade Point Futures Deddy Yusuf Siregar berpendapat jika rupiah diperkirakan akan tetap melemah sampai akhir pekan ini. Pasalnya, Amerika Serikat akan merilis laporan data pada akhir pekan nanti yang akan membawa dampak pada kurs dolar AS.

“Pertumbuhan tenaga kerja Juni itu diperkirakan tumbuh di atas 160.000 atau lebih tinggi dari periode sebelumnya. Hal ini dianggap hingga menyebabkan pelaku melakukan profit taking untuk mengantisipasi data tersebut,” kata Deddy, seperti dilansir Kontan.

Tak jauh berbeda, analis pasar uang Bank Mandiri Reny Eka Putri pun mengatakan jika saat ini para pelaku pasar tengah menantikan data tenaga kerja AS yang akan dirilis pada akhir pekan. Namun menurut Reny pelemahan yang dialami rupiah tergolong wajar. “Pelemahannya mengarah pada stabilitas saja. Walaupun nanti balik ke posisi Rp 14.200 per dollar AS, tekanannya masih wajar karena jika dilihat dari level kompetitif BI ada di kisaran Rp 14.300-Rp 14.400 per dollar AS,” papar Reny.

Deddy pun menuturkan jika potensi pelemahan yang dialami rupiah sampai akhir pekan ini terjadi karena data cadangan devisa yang akan dirilis. Deddy memprediksi bahwa cadangan devisa bulan Juni 2019 akan turun dari data pada periode sebelumnya. “Periode bulan Juni diperkirakan turun dari US$ 120 miliar menjadi US$ 118 miliar. Ini menjadi indikator rupiah akan terdepresiasi,” pungkas Deddy.

Loading...