Kenaikan Suku Bunga Acuan BI Belum Mampu Genjot Rupiah di Pasar Spot

Rupiah - www.kaskus.co.idRupiah - www.kaskus.co.id

Jakarta – Nilai tukar pada awal perdagangan hari ini, Jumat (28/9) dibuka melemah sebesar 21,5 poin atau 0,14 persen ke level Rp 14.944 per AS. Kemarin, Kamis (27/9) kurs rupiah berakhir terdepresiasi 12 poin atau 0,08 persen ke posisi Rp 14.923 per USD.

Indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the terhadap sejumlah utama terpantau menguat. Pada akhir perdagangan Kamis atau Jumat pagi WIB, indeks dolar AS naik 0,76 persen menjadi 94,8970 lantaran para pelaku masih mengantisipasi keputusan yang baru saja menaikkan acuannya.

Pada Rabu (26/9) lalu, The Fed menaikkan suku bunga pinjaman jangka pendek sebesar seperempat persen. Kenaikan suku bunga ini menjadi yang ketiga sepanjang tahun 2018 dan langkah kedelapan sejak akhir tahun 2015.

Dari sektor , Departemen Tenaga Kerja Amerika Serikat melaporkan bahwa jumlah orang Amerika yang mengajukan tunjangan pengangguran meningkat lebih dari perkiraan pekan lalu. Pada pekan yang berakhir 22 September 2018, angka pendahuluan untuk klaim awal pengangguran yang disesuaikan secara musiman menginjak angka 214.000, naik 12.000 dari tingkat yang telah direvisi pada minggu sebelumnya. Pada pekan sebelumnya direvisi naik 1.000 dari 201.000 menjadi 202.000.

Departemen Tenaga Kerja AS menambahkan, rata-rata pergerakan 4 minggu mencapai 206.250, naik 250 dari rata-rata yang telah direvisi pada pekan sebelumnya. Pada minggu sebelumnya rata-rata direvisi naik 250 dari level 205.750 menjadi 206.000.

Sementara itu, dari dalam negeri, (BI) memutuskan untuk menaikkan suku bunga 7 days reverse repo rate ke angka 5,75 persen. Pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) 26-27 September 2018, BI menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps). Sayangnya rupiah kemarin justru melemah pasca keputusan BI.

Menurut Analis Trade Point Futures Andri Hardianto, pelemahan rupiah masih dipengaruhi kekhawatiran terhadap pergerakan suku bunga AS. “Seiring kenaikan suku bunga, BI memutuskan untuk mengadakan transaksi DNDF (Domestic Non Deliverable Forward) ini keputusan yang efektif dalam meredam gejolak rupiah,” ujar Andri, seperti dilansir Kontan.

Senada, Chief Economist Bahana Sekuritas Satria Sambijantoro juga berpendapat bahwa transaksi DND memudahkan BI untuk melakukan kontrol. “Akan lebih terukur buat BI, seperti seberapa besar yang harus diintervensi,” ucapnya.

Loading...