Kembali Tertekan Dolar, Rupiah Dibuka Melemah 6 Poin ke Rp 13.763/USD

rupiah - bisnis.liputan6.comrupiah - bisnis.liputan6.com

Jakarta mengawali pagi hari ini, Jumat (23/3) dengan pelemahan sebesar 8 poin atau 0,06 persen ke level Rp 13.763 per AS. Sebelumnya, Kamis (22/3), nilai tukar berakhir terapresiasi 6 poin atau 0,04 persen ke posisi Rp 13.755 per USD setelah diperdagangkan pada kisaran Rp 13.680 hingga Rp 13.810 per dolar AS.

Indeks dolar AS yang mengukur gerak The Greenback terhadap sejumlah utama terpantau menguat tipis. Pada akhir perdagangan Kamis atau Jumat pagi WIB, dolar AS diperdagangkan menguat 0,06 persen menjadi 89,834 lantaran para masih mencermati keputusan Federal Reserve yang menaikkan suku bunganya.

Pada Rabu (21/3) lalu menaikkan acuannya sebesar 25 basis poin dan mengisyaratkan akan menaikkan lagi sebanyak 2 kali karena prospek ekonomi yang cerah selama beberapa bulan terakhir.

Kemudian Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Kamis (22/3) menandatangani nota terkait kenaikan tarif impor hingga 60 miliar dolar AS dari China. Walau sudah diperingatkan oleh kelompok bisnis dan ahli perdagangan, Trump tetap menandatangani nota tersebut dan memunculkan kekhawatiran terkait perdagangan global.

Sementara itu, dari sektor ekonomi pada pekan yang berakhir 17 Maret, angka pendahuluan untuk klaim awal pengangguran yang disesuaikan secara musiman mencapai 229.000, naik 3.000 dari tingkat yang tak direvisi pada pekan sebelumnya sebesar 226.000. Rata-rata pergerakan 4 minggu mencapai 223.750, naik 2.250 dari rata-rata yang tidak direvisi pada minggu sebelumnya yang mencapai 221.500.

Dari sisi domestik, Analis Uang Bank Mandiri Reny Eka Putri berpendapat bahwa rupiah masih berpotensi untuk kembali terkoreksi. “Pelaku masih akan terus mencermati data-data ekonomi AS, terutama tingkat dan ekonominya,” kata Reny, seperti dilansir Kontan.

Senada, Analis Tradepoint Futures Andri Hardianto mengatakan jika setelah keputusan The Fed, AS masih dalam agenda pengetatan kebijakan moneter, oleh sebab itu perhatian pasar masih tertuju pada aset dolar AS. “Ini terlihat dari capital inflow yang masih belum signifikan. Artinya, pasar belum sepenuhnya percaya pada rupiah,” bebernya.

Terlebih karena ekspektasi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal pertama tahun ini menurun. “Pemerintah memperkirakan pertumbuhan ekonomi kuartal pertama ini tidak bisa mencapai 5,01% seperti tahun lalu. Belakangan rupiah terjaga cenderung karena intervensi Bank Indonesia yang menggerus cadangan devisa juga,” tutupnya.

Loading...