Kembali Bangkitkan Selera, Produsen Lokal Berlomba Hadirkan Mie Instan Premium

Makan Mie Instan - tech9bees.comMakan Mie Instan - tech9bees.com

JAKARTA – Produsen mie instan sedang giat mengembangkan yang dijual dengan dua bahkan tiga kali lipat lebih mahal daripada produk ‘konvensional’. Langkah yang terutama menyasar segmen kelas atas ini dilakukan untuk mengatasi tekanan dari produk impor dan selera yang kerap berubah di tengah pertumbuhan .

Diberitakan Nikkei, satu demi satu, pembuat mie lokal merilis produk yang dijual dengan harga lebih mahal daripada mie instan kebanyakan. Tahun lalu, Wings Group sudah menambahkan produk premium ke merk Mie Sedaap mereka. Entri baru yang dinamakan Mie Sedaap Tasty ini dijual dengan harga Rp7.000 hingga Rp8.000 per bungkus untuk kemasan 129 gram.

Pemimpin , Indofood Sukses Makmur, juga sudah memperluas produk mereka dengan Indomie Real Meat, yang mencakup bahan-bahan yang dimasak, serta Premium Collection yang diklaim menggunakan tepung berkualitas tinggi. baru dari seri ini termasuk rasa Empal Goreng yang dilengkapi dengan topping daging asli serta rasa Telur Balado dengan tambahan topping telur puyuh.

Sebelumnya, pada tahun 2016, Mayora Group sudah merilis mie instan yang disebut Bakmi Mewah, lengkap dengan ayam dan jamur yang dimasak. Harga yang lebih tinggi tidak menghentikan konsumen untuk menyeruput Bakmi Mewah. Seperti yang dikatakan oleh seorang pembelanja, mie ini mereproduksi rasa restoran dan masakan rumahan. Mayora Group sejak itu rajin memperkenalkan mie premium dengan bahan-bahan lain, seperti pangsit ikan.

Produk-produk kelas atas memang masih merupakan bagian kecil dari pasar mie instan Indonesia. Tetapi, produk-produk ini telah tersebar luas di supermarket besar di daerah perkotaan seperti Jakarta dan Surabaya. Di Indonesia sendiri, mie instan sudah dianggap sebagai ‘hidangan nasional’. Orang Indonesia makan 12,5 miliar porsi pada tahun 2018, menurut World Instant Noodles Association, atau nomor dua setelah China (termasuk Hong Kong).

Namun, perusahaan-perusahaan pembuat mie sedang berusaha untuk meningkatkan pendapatan per-paket karena permintaan telah menurun dalam beberapa tahun terakhir. Pada tahun 2014, orang Indonesia memakan 13,4 miliar paket, dan jumlahnya telah menurun setiap tahun sejak itu. Salah satu alasannya adalah bahwa orang Indonesia memiliki lebih banyak pilihan.

Populasi besar Indonesia dan meningkatnya ekonomi telah menarik minat perusahaan makanan dari seluruh dunia. Ayam goreng dan daging sapi di atas nasi sudah tersedia di banyak restoran makanan cepat saji. Ditambah lagi, orang Indonesia lebih banyak bepergian, dan kerap tergoda mie instan yang populer dari Jepang, Korea Selatan, dan negara lain.

Tren ini lantas mendorong pemain domestik untuk merespons dengan produk-produk premium, yang akhirnya memicu gelombang baru persaingan di antara mereka sendiri. Indofood menguasai sekitar 70% pangsa pasar Indonesia. Indomie secara luas dianggap identik dengan mie instan. Tetapi, karena saingan seperti Wings, yang berada di posisi kedua, secara aktif memperkenalkan produk baru, Indofood mungkin harus berjuang untuk mempertahankan posisi mereka.

Loading...