Kemampuan The Fed Diragukan, Rupiah Melenggang di Zona Hijau

Berkurangnya kepercayaan pasar terhadap kemampuan The Fed untuk menaikkan suku lanjutan membuat AS melemah dan mampu dimanfaatkan untuk melenggang ke zona hijau. Menurut Index pukul 15.25 WIB, mata uang Garuda menutup perdagangan Kamis (29/6) ini dengan penguatan sebesar 12 poin atau 0,09% ke level Rp13.330 per AS.

Dari pasar , indeks dolar AS mengalami pelemahan ke level terendah sejak 4 Oktober 2016 seiring dengan berkurangnya kepercayaan pasar atas sikap guna menaikkan suku bunga lanjutan pada tahun 2017 ini. Pada pukul 11.31 WIB tadi, mata uang Paman Sam meluncur 0,130 poin atau 0,14% ke level 95,88.

“Pelemahan indeks dolar AS ke level terendah sejak Oktober 2016 terjadi akibat berkurangnya keyakinan investor terhadap kemampuan The Fed menaikkan suku bunga lanjutan pada tahun ini,” ujar Research and Analyst PT Monex Investindo Futures, Putu Agus Pransuamitra. “Ketidakpercayaan pasar semakin membesar karena yield obligasi tenor 10 tahun yang menjadi indikator penaikan suku bunga juga mengalami pelemahan.”

Selain itu, politik AS kian tidak menentu setelah rancangan UU Kesehatan yang diusung Donald Trump kembali ditolak parlemen. Pimpinan Partai Republik di Senat AS, Mitch McConnell, menunda voting karena di internal partainya banyak yang menentang. Sementara, kubu oposisi Partai Demokrat sangat solid menentang perubahan undang-undang ini.

Di sisi lain, nilai tukar pound sterling justru bersinar karena terbukanya peluang kenaikan suku bunga oleh of England (BoE). Pada perdagangan Kamis pukul 08.50 WIB, mata uang Inggris tersebut terkerek naik 0,0032 poin atau 0,25% menuju 1,2958 per dolar AS, sekaligus peningkatan dalam tujuh sesi beruntun.

“Pernyataan Gubernur Bank of England, Mark Carney, mengindikasikan sentimen hawkish yang memberikan katalis positif terhadap pergerakan pound sterling,” sambung Putu. “Ketika ekonomi Inggris dan Eropa berada dalam taraf full capacity, maka kenaikan suku bunga diperlukan. Saat ini, tingkat suku bunga ECB adalah 0,25%.”

Loading...