Kekhawatiran Perlambatan Ekonomi AS Meningkat, Nilai Tukar Rupiah Ikut Keok

Rupiah - berkahtuhan.comRupiah - berkahtuhan.com

Jakarta – Rupiah dibuka melemah sebesar 6 poin atau 0,04 persen ke posisi Rp 14.526 per AS di awal pagi hari ini, Jumat (7/12). Sebelumnya, Kamis (6/12), nilai tukar mata uang Garuda berakhir terdepresiasi cukup dalam sebesar 117 poin atau 0,82 persen menjadi Rp 14.520 per USD.

Sementara itu, indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the terhadap sejumlah mata uang utama terpantau melemah. Pada akhir perdagangan Kamis atau Jumat pagi WIB, indeks dolar AS merosot lantaran sejumlah data Amerika Serikat yang negatif.

Dilansir Xinhua, imbal hasil AS bertenor 10 tahun jatuh ke angka 2,83 persen, memperpanjang kerugiannya usai sempat melebihi level 3 persen pada Senin lalu. Imbal hasil biasanya dijadikan tolok ukur biaya pinjaman, baik di sektor publik dan swasta.

Menurut para analisis, penurunan ini menggambarkan kekhawatiran investor terhadap volatilitas yang meningkat serta kemungkinan adanya perlambatan ekonomi. Alhasil, ini juga mengakibatkan ekspektasi terhadap kenaikan suku bunga lanjutan pada pertemuan tanggal 18-19 Desember 2018 menjadi berkurang. Investor memprediksi tak ada lebih dari 1 kenaikan suku bunga pada tahun 2019 mendatang, menurut ala FedWatch CME Group.

Di samping itu, pasar tenaga kerja Amerika Serikat juga dilaporkan melemah, dengan lapangan pekerjaan yang lebih lambat dari perkiraan di sektor swasta pada November 2018, sehingga makin memperbesar kekhawatiran tentang ekonomi AS. Berdasarkan laporan terbaru ADP, pekerjaan sektor swasta naik sebesar 179.000 pada bulan November yang disesuaikan secara musiman, lebih rendah dari perkiraan 195.000 pos pekerjaan baru.

Menurut Ahmad Mikail Ekonom Samuel Sekuritas Indonesia, yield US Treasury membentuk pola inverted yield curve, yakni yield US Treasury jangka pendek lebih tinggi dari yield US Treasury jangka panjang. Hal itu pula yang mengindikasikan bahwa AS berpotensi mengalami resesi. “Berarti ada kemungkinan pertumbuhan ekonomi AS di tahun depan akan melambat dan membuat earning per share saham-saham AS ikut turun sehingga membuat ekonomi turun dan terlihat dari melemahnya bursa saham AS,” kata Ahmad, seperti dilansir Kontan.

Potensi resesi tersebut yang mendorong capital outflow, baik di bursa AS dan emerging market. Pasar pun menjadi lebih suka memegang uang cash lantaran khawatir dengan perlambatan ekonomi global dan menjadikan dolar AS sebagai safe haven yang akhirnya membuat rupiah melemah.

Loading...