Kekhawatiran Kebijakan Ketat Fed Pudar, Rupiah Berakhir Menguat

Rupiah menguat pada perdagangan Senin (7/6) sore - indoposco.id

JAKARTA – sanggup bertahan di area hijau pada perdagangan Senin (7/6) sore ketika kekhawatiran pasar terhadap pengetatan kebijakan moneter sedikit mereda. Menurut Index pada pukul 14.57 WIB, Garuda ditutup menguat 30 poin atau 0,21% ke level Rp14.265 per AS.

Sementara itu, sejumlah mata uang terpantau bergerak bervariasi terhadap . Won Korea Selatan memimpin penguatan setelah naik 0,47%, diikuti dolar Taiwan yang menguat 0,12% dan peso Filipina yang terapresiasi 0,07%. Sebaliknya, rupee India harus melemah 0,12%, disusul bath Thailand dan ringgit Malaysia yang masing-masing terdepresiasi 0,09%.

“Penguatan rupiah ditopang meredanya kekhawatiran pasar terhadap potensi pengetatan kebijakan moneter yang lebih cepat oleh Federal Reserve,” tutur analis pasar uang, Ariston Tjendra, dikutip dari CNN Indonesia. “Data nonfarm payrolls AS yang di bawah ekspektasi, melegakan pelaku pasar terhadap kemungkinan The Fed akan melakukan tapering lebih cepat.”

Ia melanjutkan, kebijakan moneter The Fed merujuk pada dua indikator, yaitu tingkat dan data tenaga kerja. Angka di AS mencapai level di atas 2%, karena banjir likuiditas akibat stimulus fiskal jumbo AS. Namun, bank sentral beralasan bahwa itu hanya sementara. Di saat yang bersamaan, The Fed melihat angka lapangan pekerjaan di AS belum kembali ke level sebelum pandemi. “Jadi, belum ada alasan cukup untuk memperketat kebijakannya saat ini,” jelasnya.

Dari pasar global, dolar AS mencoba bangkit dari tekanan, setelah data pekerjaan AS yang lebih lemah dari perkiraan dalam dua bulan beruntun membalikkan upaya reli baru-baru ini, ketika fokus bergeser ke angka inflasi dan pertemuan Bank Sentral Eropa. Mata uang Paman Sam terpantau menguat tipis 0,018 poin atau 0,02% ke level 90,154 pada pukul 10.42 WIB.

“Angka tenaga kerja AS bulan Mei yang sedikit lebih lemah dari perkiraan pada hari Jumat (4/6) akan menentukan nada untuk minggu-minggu mendatang,” urai analis ING Bank dalam sebuah catatan kepada klien, dilansir dari Reuters. “Ini memberikan alasan bagi (Federal Reserve) untuk mengatakan bahwa kemajuan substansial ke arah tujuannya belum tercapai dan untuk menunda perdebatan yang sedikit meruncing.”

Loading...