Kekerasan Anti-Muslim di India, Wujud Pogrom Secara Langsung?

Bentrokan antara massa pendukung dan penolak UU Anti-Muslim di IndiaBentrokan antara massa pendukung dan penolak UU Anti-Muslim di India - akurat.co

NEW DELHI – Pengesahan Amandemen Kewarganegaraan India (Citizenship Amendment Act/CAA) yang memberikan kewarganegaraan kepada para imigran dari Pakistan, Afghanistan, dan Bangladesh, kecuali mereka yang beragama , telah memicu protes besar dari warga India. Imbasnya, terjadi bentrokan besar antara umat Hindu pro- dan warga Muslim, mengakibatkan banyak korban di kalangan umat Islam tersebut.

Dilansir dari TRT World, dimulai di daerah mayoritas Muslim di timur laut New Delhi, kekerasan meluas hingga Senin (24/2) malam, yang memuncak dengan kematian setidaknya dua pengunjuk rasa anti-CAA serta puluhan lainnya terluka. Rekaman menunjukkan, polisi New Delhi menembakkan gas air mata ke kerumunan. Pada Rabu (26/2) pagi, korban tewas meningkat menjadi setidaknya 20 orang, termasuk seorang pengemudi becak, seorang buruh, dan seorang ayah dari enam anak.

Sebuah video yang beredar di menunjukkan selusin pria Muslim ditendang dan dipukuli sebelum dipaksa oleh polisi untuk membaca Vande Mataram, puisi yang diambil dari Anandamath dan diberi status lagu kebangsaan, ketika mereka berbaring tanpa daya di tanah. Sementara, yang lain menunjukkan seorang pria Muslim ditinju dan ditendang tanpa ampun oleh gerombolan preman jalanan serta sebuah kuil Muslim dibakar dengan bom bensin.

Pada hari Selasa (25/2) sore, gerombolan yang meneriakkan Jai Shri Ram (kemenangan untuk Rama) dan Hinduon ka Hindustan (India untuk umat Hindu) mengepung sebuah masjid di Ashok Nagar, sebelum dibakar, sementara seorang lelaki meletakkan bendera Hanuman di atas menara masjidnya. Rekaman itu juga menunjukkan para perwira polisi New Delhi bergabung dengan para pemrotes pro-CAA, melemparkan batu ke arah umat Muslim. ”Polisi bersama kami,” kata seorang pria Hindu dalam sebuah video yang di-posting di Twitter.

Sebelumnya, awal Februari, ratusan nasionalis sayap kanan berkumpul di Universitas Jamia Millia Islamia (JMI) New Delhi, meneriakkan slogan-slogan anti-Muslim. Akhir tahun kemarin, kelompok pengawas internasional Genocide Watch mengeluarkan peringatan untuk Muslim di Kashmir dan Assam. “Persiapan jelas sedang berlangsung di India. Tahap selanjutnya adalah pemusnahan,” ujar Profesor Gregory Stanton, penulis 10 Stages of Genocide, dalam pidatonya kepada anggota parlemen pada bulan Desember.

Tentu saja, kedua wilayah tersebut sama sekali tidak mendukung upaya pemerintah untuk memarginalkan dan membuat tak terlihat minoritas yang dianiaya di negara itu, dengan delapan juta Muslim di Kashmir hidup di bawah penguncian militer dan pemadaman komunikasi yang kini telah melampaui 200 hari. Sementara itu, tiga juta Muslim di Assam menghadapi prospek deportasi atau penahanan sebagai akibat dari langkah-langkah yang diterapkan sebagai hasil dari NRC.

“Ibu saya melahirkan saya di rumah, tetapi kelahiran saya tidak pernah terdaftar. Jadi, bagaimana cara mendapatkan sertifikat?” tutur seorang warga Muslim Assam kepada Foreign Policy. “Saya juga tidak memiliki catatan kepemilikan tanah atau masa sewa sejak lima dekade lalu. Meskipun kami adalah warga negara yang taat hukum, telah hidup damai di India sepanjang hidup kami, kami mungkin akan diusir dari negara itu.”

Di pucuk pimpinan adalah Narendra Modi, seorang pria yang dituduh terlibat langsung dalam pogrom anti-Muslim terbaru di negara itu selama kapasitasnya sebagai menteri utama Gujarat. Di seluruh India, Modi menyerang, memperkosa, dan menghukum para Muslim dengan impunitas, ketika para pemimpin pemerintah secara terbuka menyebut minoritas agama sebagai ‘rayap’ dan ‘hama’.

Loading...