Kejatuhan Euro Untungkan Dolar, Rupiah Berakhir Melemah 50 Poin

www.globalindonesianvoices.com

Rupiah sekali lagi harus menutup perdagangan di zona merah ketika indeks dolar AS bergerak lebih tinggi, didukung kejatuhan euro dan kenaikan imbal hasil obligasi Paman Sam. Menurut Index pukul 15.59 WIB, Garuda menyelesaikan transaksi Kamis (8/2) ini dengan anjlok 50 poin atau 0,37% ke level Rp13.605 per dolar AS.

Sebelumnya, rupiah sudah ditutup terdepresiasi 15 poin atau 0,11% di posisi Rp13.555 per dolar AS pada akhir dagang Rabu (7/2) kemarin. Tren negatif mata uang NKRI berlanjut pagi tadi dengan dibuka melemah 40 poin atau 0,30% ke level Rp13.595 per dolar AS. Sepanjang transaksi hari ini, spot praktis tidak memiliki daya untuk keluar dari teritori merah, mulai awal hingga akhir dagang.

Dari , indeks dolar AS bergerak lebih tinggi terhadap saingan utama pada hari Kamis, setelah mendapat keuntungan dari pelemahan euro dan kenaikan imbal hasil AS, namun masih dibatasi oleh kekhawatiran tentang volatilitas saham. Mata uang Paman Sam tersebut stabil di level 90,242, tidak jauh dari level tertinggi hari Rabu di posisi 90,40, atau tertinggi dalam dua minggu terakhir.

Seperti dilaporkan Reuters, penguatan yang dialami salah satunya dipicu oleh pelemahan yang dialami euro setelah pemimpin Demokrat Sosial Jerman (SPD) dikabarkan tidak akan mengambil alih posisi sebagai keuangan. Kejatuhan euro semakin cepat usai salah satu European Central Bank (ECB) menuturkan bahwa AS memang sengaja melemahkan greenback.

“Euro baru-baru ini terlalu kuat, dengan terlalu banyak harapan tentang normalisasi kebijakan awal ECB, dan sekarang melepaskan posisi tersebut,” ujar kepala strategi valas di Mizuho Securities di Tokyo, Masafumi Yamamoto. “Gerak dolar AS dan yen tampaknya ditutup oleh ketidakpastian di pasar ekuitas, meski penurunan pasar saham tidak akan berlangsung lama, karena dunia sudah solid.”

Selain kejatuhan euro, gerak indeks dolar AS juga didukung imbal hasil Treasury AS yang lebih tinggi. Imbal hasil obligasi AS 10-tahun tercatat mencapai 2,816% di perdagangan Asia. Meski demikian, rebound yang dialami dolar AS diprediksi tidak akan berlangsung lama meski Federal Reserve diperkirakan akan menaikkan suku bunga sebanyak tiga kali dalam tahun ini.

Loading...