Kebutuhan Dolar untuk Ekspor-Impor jelang Lebaran mulai Ancam Rupiah

20140624_rupiah_afpPosisi makin menjelang penutupan perdagangan sore ini (28/4). melemah sejauh 0,24% ke level Rp13.013 perDolar Amerika dalam pantauan Indeks . Rupiah kini merosot dari posisinya semula setelah sempat menguat 0,15% ke level Rp 12.962 beberapa saat setelah sesi perdagangan awal dibuka. Pelemahan Rupiah sore ini diduga terjadi serentak bersamaan dengan asia lainnya yang juga melemah terhadap Dolar. Dari 11 Asia lainnya yang dipantau oleh Bloomberg, ada 5 mata uang bergerak melemah. Mata uang yang paling parah penurunan nilai tukarnya adalah Rupiah, sedangkan 6 mata uang lainnya menguat dipimpin oleh yang melesat sejauh 0,28%.

Destry Damayanti selaku Pakar Ekonomi dari mensinyalir pelemahan Rupiah tersebut sebagai akibat dari yang diindikasikan oleh koreksi IHSG (Indeks Saham Gabungan) hingga sebesar 3%. “Pengaruh indeks saham yang terkoreksi cukup dalam kemarin, Capital outflownya sampai Rp2,2 triliun. (Hal) Itu yang menjadi concern kedepan untuk para foreign investor. Mereka ditakutkan akan menarik modalnya di Indonesia,” kata Destry saat diwawancara melalui sambungan telepon sore ini.
Di pihak lain, David Sumual selaku pakar Ekonomi Bank BCA memaparkan bahwa pada kuartal kedua ini adalah waktu dimana permintaan terhadap Dolar makin meningkat sehubungan dengan kebutuhan ekspor. “Repatriasi dividen biasanya di kuartal ke-2 cukup besar, (kebutuhan) juga akan meningkat karena persiapan menjelang puasa dan Lebaran biasanya banyak pengusaha dan pihak Pemerintah yang melakukan aktifitas belanja ,” ujar David yang dihubungi di saat berbeda.

Loading...