Kebebasan Transfer Pekerja Asing Justru Hambat Pertumbuhan Ekonomi ASEAN

Negara-negara anggota menyepakati penyatuan pada pertengahan 2000-an melalui transfer tak terbatas, mulai , barang, dan uang. Namun ironisnya, kebebasan dalam transfer pekerja yang melebihi batas ini justru menjadi salah satu penghambat bagi pertumbuhan di kawasan tersebut.

Keanekaragaman memang dianggap sebagai suatu keuntungan di yang memungkinkan transfer yang sangat dinamis bagi pekerja asing. Pembentukan Ekonomi ASEAN (MEA) pada akhir tahun lalu juga menjadi “pelampung” bagi pergerakan tenaga kerja asing. Sayangnya, ketergantungan yang ceroboh terhadap pekerja asing ini justru dapat menghambat pertumbuhan ekonomi ASEAN.

Seorang pria berusia 28 tahun asal bekerja mengumpulkan kacang sawit seberat lebih dari 30 kg setiap hari untuk produksi minyak sawit di Johor, Malaysia. Sayangnya, meski harus meninggalkan istri dan anak, upah bulanan yang diterimanya jauh lebih rendah daripada upah minimal 1.000 ringgit. “Saya terakhir pulang dua tahun lalu, tetapi saya harus menerima situasi ini karena tidak ada pekerjaan di kampung halaman,” katanya seperti dikutip Nikkei.

Di Malaysia sendiri, satu dari tiga buruh adalah pekerja asing, sedangkan setengah dari semua buruh asing adalah pekerja ilegal. Produk bruto () negara ini memang meningkat sekitar 10.000 . Namun, pertumbuhan ekonomi secara garis besar masih mengalami perlambatan karena masih mengandalkan pekerja migran sehingga kekurangan momentum untuk menumbuhkan bisnis baru.

Usaha untuk mempekerjakan penduduk lokal di negara sendiri sebenarnya sudah dilakukan. Di Pulau Mindanao, Filipina, Rodrigo Duterte membangun untuk mempekerjakan orang-orang lokal. PDB per kapita di Wilayah Otonomi Muslim Mindanao sendiri hanya 689 dolar AS, jauh di bawah Metro Manila yang mencapai 8.235 dolar AS.

Industrialisasi di Asia Tenggara sendiri sudah dimulai pada tahun 1980-an dengan mengambil keuntungan dari pekerja asing ilegal. Hingga saat ini, mayoritas negara ASEAN masih mengandalkan pekerja ini meski tingkat pendapatan domestik telah meningkat. Di sisi lain, bisnis yang tidak dapat menahan kenaikan upah justru dihentikan. Hal ini menyebabkan kesenjangan ekonomi yang cukup besar di kawasan itu.

Loading...