Kebakaran Hutan Lahap Dana 2 kali Lebih Besar dari Anggaran Pembangunan Aceh Paska Tsunami

Jakarta – Menurut data World Bank (15/12), dalam satu tahun saja, Indonesia telah menghamburkan dana sebesar Rp 221 Triliun hanya untuk memadamkan kebakaran hutan yang membuat kawasan Tenggara berselimutkan kabut. Dana ini 2 kali lipat jumlahnya dari anggaran yang dihabiskan untuk membangun kembali Aceh paska Tsunami di tahun 2004 lalu.

Kebakaran hutan dan kabut asap sebenarnya sudah menjadi masalah tahunan akibat pembukaan lahan tanam dengan sistem primitif ’tebang dan bakar’. Hanya saja, kejadian di tahun ini merupakan yang terparah hingga menyebabkan udara memburuk dan korban berjatuhan di seluruh wilayah.

Bank Dunia membeberkan bahwa kebakaran hutan yang terjadi selama 5 bulan tersebut (Juni-Oktober) telah menghancurkan 2,6 juta hektar hutan serta lahan pertanian di seluruh Indonesia. Biaya yang telah dikucurkan untuk mengatasinya mencapai 221 triliun atau setara 1,9% dari jumlah PDB tahun ini.

Sebaliknya, Biaya untuk membangun Aceh paska Tsunami yang menelan puluhan ribu jiwa tersebut hanya sampai pada nominal USD 7 Miliar (setara Rp 98,3 T).

“Dampak ekonomi dari kebakaran telah (sangat) besar,” ujar Rodrigo Chaves Direktur Bank Dunia Indonesia.

Membakar lahan dianggap sebagai solusi paling cepat dan murah untuk pembukaan lahan baru di Sumatera dan Kalimantan. Cara ini telah lama digunakan oleh perkebunan kelapa sawit untuk melipatgandakan keuntungan. Namun, membakar lahan secara besar-besaran memicu terciptanya kabut asap yang berbahaya pada musim kemarau panjang, apalagi jika dilakukan di lahan gambut yang kaya karbon.

Indonesia merupakan produsen minyak kelapa sawit terbesar di dunia. Dalam pemaparan Bak Dunia, jika setiap hektar yang terbakar di tahun 2015 diubah menjadi kelapa sawit, maka nilainya bisa mencapai USD 8 miliar.

“Jadi di satu sisi, 16 miliar dolar diberikan kepada , sisanya 8 miliar dolar dinikmati oleh segelintir pihak,” kata Ann Jeannette Glauber, spesialis lingkungan Bank Dunia.

Estimasi biaya didasarkan pada analisis dari jenis tanah yang dibakar dan memperhitungkan dampak pada aspek pertanian, kehutanan, perdagangan, pariwisata, dan transportasi. Tak ketinggalan efek samping jangka pendek dari munculnya kabut asap, seperti penutupan sekolah dan gangguan kesehatan.

Lebih dari setengah juta orang di Indonesia menderita infeksi saluran pernapasan akut akibat kabut asap ini, hal serupa juga terjadi di negara tetangga seperti dan .

Loading...