Akhir Kamis, Lonjakan Kasus Virus Corona Bikin Rupiah Merah

Rupiah - www.tribunnews.comRupiah - www.tribunnews.com

JAKARTA – harus berbalik ke teritori merah pada Kamis (13/2) sore, ketika kasus virus corona kembali melonjak, sekaligus membuat limbung sebagian besar aset berisiko di Asia. Menurut catatan Bloomberg Index pada pukul 15.58 WIB, Garuda ditutup melemah 20 poin atau 0,15% ke level Rp13.694 per dolar AS.

Sementara itu, siang tadi Bank Indonesia menetapkan berada di posisi Rp13.679 per dolar AS, terdepresiasi 20 poin atau 0,14% dari perdagangan sebelumnya di level Rp13.659 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang Asia harus takluk melawan , dengan pelemahan terdalam sebesar 0,12% menghampiri yuan onshore China.

Kurs di Benua Kuning, seperti dilansir Bloomberg, harus bergerak lebih rendah pada hari Kamis, ketika kasus infeksi virus corona lagi-lagi melonjak setelah laju sebelumnya sempat mulai stabil. Pada Rabu (12/2), Provinsi Hubei, tempat wabah itu berasal, menambahkan 14.840 kasus baru selama periode 24 jam, menyusul revisi komisi kesehatan setempat mengenai metode untuk menghitung kasus terinfeksi.

mengambil jeda untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan virus corona dan akan mencari tahu data tersebut dalam beberapa hari ke depan,” tutur kepala strategi di Standard Chartered Bank, Steve Brice. “Kekhawatirannya adalah jika data itu merupakan langkah mundur dalam hal reklasifikasi dan karenanya tren jumlah kasus baru yang melambat masih ada, atau ini pertanda tren tersebut akan berbalik dan menjadi lebih mengkhawatirkan.”

Ketika mata uang komoditas mengalami penurunan, yen Jepang, yang dianggap sebagai aset aman ketika terjadi gejolak di dunia, terpantau bangkit dari level terendah tiga minggu terhadap dolar AS. Mata uang Negeri Sakura mampu menguat 0,15% terhadap dolar AS pada hari Kamis, menuju posisi 109,94, sekaligus rebound dari pelemahan terendah sejak 21 Januari.

“Ketika Anda melihat angka-angka seperti ini, Anda tidak dapat membantu tetapi beralih ke perdagangan risk-off, yang berarti membeli yen dan menjual saham,” kata ahli strategi pasar di Sumitomo Mitsui Trust Bank di Tokyo, Ayako Sera, dilansir Reuters. “Jika pihak berwenang dapat menjelaskan hal ini secara wajar, pasar mungkin akan tenang, tetapi saya kira penghindaran aset risiko akan berlanjut.”

Loading...