Kasus Tunggakan First Media dan Bolt, Lippo Group Makin Terpuruk

Lippo Group - dpmptsp.bantenprov.go.idLippo Group - dpmptsp.bantenprov.go.id

Dua anak usaha Lippo Group yang melayani akses , First dan Internux, saat ini tengah terlibat masalah dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) karena belum membayar hak penggunaan frekuensi radio sebesar lebih dari Rp708 miliar. Hal tersebut lantas memicu spekulasi mengenai situasi keuangan salah satu konglomerat di Tanah Air.

Seperti diberitakan Nikkei, First Media dan Internux, penyedia Bolt, belum membayar tagihan biaya hak penggunaan frekuensi radio sejak tahun 2016 lalu. Kedua awalnya diberikan deadline 17 November 2018, dengan ancaman pencabutan lisensi. Namun, Pengadilan Niaga di Jakarta mengabulkan proposal untuk membayar tagihan dengan angsuran yang bisa mencapai 30 tahun. Kominfo pun keberatan dengan keputusan ini dan mengajukan banding di Mahkamah Agung.

“Pengadilan memutuskan homologasi,” kata Menteri Kominfo, Rudiantara, kepada wartawan pekan lalu. “Homologasi memungkinkan pembayaran dengan mencicil selama beberapa dekade. Tentu saja kami keberatan dengan itu dan kami sedang memproses banding. Kedua perusahaan juga telah diberitahu untuk tidak menjual perangkat (Bolt) baru.”

Anak perusahaan Lippo telah memiliki lisensi spektrum sejak tahun 2009 dan akan berakhir tahun depan. Pejabat kementerian yang lain mengatakan bahwa jika proposal angsuran mereka disetujui, ini berarti secara memperpanjang lisensi perusahaan setidaknya selama satu dekade lagi. Padahal, kementerian telah memberikan catatan penting tentang riwayat perusahaan yang tidak membayar tagihan tepat waktu.

beberapa media menunjukkan bahwa Internux berutang kepada sejumlah besar entitas lain, dan bahwa gesekan dengan Kominfo dimulai ketika gugatan diajukan pada bulan September lalu oleh perusahaan yang menuntut pembayaran. Internux dikatakan memiliki tagihan luar biasa untuk membayar kepada sekitar 280 entitas, termasuk ke Kominfo, sebesar lebih dari Rp4 triliun.

Perjuangan hukum First Media dan Internux menambah sejumlah masalah bagi Lippo Group. Kekhawatiran mengenai kondisi keuangan konglomerat -Indonesia ini sudah muncul setelah lembaga pemeringkat kredit menurunkan peringkat Lippo Karawaci beberapa kali selama satu setengah tahun terakhir, dengan alasan masalah arus kas.

Selain itu, dugaan penyuapan di sekitar proyek Meikarta yang ada di luar Jakarta menarik perhatian mengenai kemampuan kelompok itu untuk membiayai pengembangan ambisius, yang telah dirusak oleh laporan tagihan iklan yang tidak dibayar dan gaji wiraniaga. Sayangnya, baik pihak First Media maupun Lippo tidak berkenan memberikan komentar mengenai masalah-masalah yang mendera mereka.

Loading...