Kasus COVID-19 Global Kembali Tinggi, Rupiah Ditutup Melemah

Rupiah - www.medanbisnisdaily.comRupiah - www.medanbisnisdaily.com

JAKARTA – Rupiah praktis tidak memiliki energi yang cukup untuk mengangkat posisi ke teritori hijau pada Selasa (22/9) sore ketika cenderung menjaga jarak dengan aset berisiko lantaran kasus -19 kembali melonjak. Menurut laporan Bloomberg Index pada pukul 14.58 WIB, mata uang Garuda ditutup melemah 85 poin atau 0,58% ke level Rp14.785 per dolar AS.

Sementara itu, data yang diterbitkan Bank jam 10.00 WIB tadi menetapkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) berada di posisi Rp14.782 per dolar AS, terdepresiasi 59 poin atau 0,40% dari sebelumnya di level Rp14.723 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, sejumlah mata uang juga tidak berdaya melawan , termasuk rupiah, won Korea Selatan, dan ringgit Malaysia.

Dilansir dari CNBC Indonesia, pelemahan rupiah serta mata uang emerging market disebabkan investor saat ini sedang menjaga jarak dengan aset-aset berisiko. Pasalnya, perkembangan pandemi COVID-19 di seluruh dunia semakin mengkhawatirkan, dengan penambahan pasien terkonfirmasi di Prancis, Austria, serta Belanda mencatatkan rekor tertinggi.

“Kekhawatiran meningkat karena pemulihan pada musim panas mungkin hanya sebatas ini, tidak bisa lebih,” tutur Chief Market Analyst di CMC Markets UK, Michael Hewson, dikutip dari Reuters. “Sepertinya kita akan menyambut musim gugur dengan kembalinya lockdown. Apalagi kehadiran vaksin mungkin masih beberapa bulan lagi.”

Dari pasar , kenaikan yang dibukukan dolar AS semalam sempat tertahan pada Selasa pagi, setelah kekhawatiran tentang dan tentang stimulus AS mendorong gelombang penjualan di hampir semua hal lainnya. Mata uang Paman Sam terpantau melemah 0,132 poin atau 0,14% ke level 93,524 pada pukul 11.10 WIB, sebelum rebound 0,220 poin atau 0,23% ke posisi 93,876 pada pukul 14.37 WIB.

Reuters melaporkan, penjualan aset terberat terjadi di sektor keuangan, setelah skandal uang kotor baru mempermalukan bank-bank global, yang segera menyebar ke sektor dan kelas aset lain di tengah kekhawatiran tentang kemungkinan lockdown baru ketika kasus COVID-19 kembali menyebar. Investor pesimistis mengenai peluang lebih banyak stimulus fiskal di AS karena kampanye mendominasi lanskap politik.

“Aksi jual ekuitas mengumpulkan momentum yang cukup dramatis di Eropa dan karakteristik penghindaran risiko dari dolar AS benar-benar mengemuka,” tutur kepala FX National Australia Bank, Ray Attrill. “Banyak hal sekarang tergantung pada apakah yang kita lihat dalam 24 jam terakhir dipertahankan atau tidak. Ada alasan bagus untuk berpikir bahwa kita bisa berada dalam periode multi-minggu ketika greenback setidaknya berhenti merosot.”

Loading...