Kasus Covid-19 Catatkan Rekor, Rupiah Berakhir Melemah

Rupiah - www.tribunnews.comRupiah - www.tribunnews.com

JAKARTA – harus puas menutup Jumat (16/7) sore di teritori merah ketika jumlah kasus harian Covid-19 di Indonesia terus mencatatkan rekor meskipun sudah ada kebijakan PPKM Darurat. Menurut laporan Index pada pukul 14.58 WIB, mata uang Garuda berakhir melemah 15 poin atau 0,1% ke level Rp14.497,5 per AS.

Sementara itu, mayoritas mata uang Asia juga tidak berdaya melawan . Baht Thailand menjadi yang terpuruk setelah terkoreksi 0,3%, diikuti won Korea Selatan dan dolar Singapura yang masing-masing terdepresiasi 0,16%, dan yen Jepang yang minus 0,15%. Sebaliknya, ringgit Malaysia dan peso Filipina hanya mampu menguat sangat tipis.

“Mata uang Garuda melemah karena rekor kasus Covid-19 di Indonesia yang mencapai 56 ribu kasus dalam sehari,” tutur analis pasar uang, Ariston Tjendra, dikutip dari CNN Indonesia. “Kenaikan kasus ini dikaitkan dengan potensi perlambatan karena kebijakan pembatasan aktivitas untuk mengendalikan pandemi.”

Untuk menekan penyebaran Covid-19, sebenarnya telah menerapkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat sejak 3 Juli lalu hingga 20 Juli mendatang di Pulau Jawa dan Bali. Namun, dengan masih banyaknya kasus virus corona dan belum menunjukkan tanda-tanda pelandaian, membuka opsi untuk memperpanjang PPKM Darurat.

Dari pasar , dolar AS bergerak sedikit lebih rendah pada hari Jumat, ketika kekhawatiran investor tentang kenaikan AS yang lebih cepat terhapus dengan sendirinya oleh pernyataan dovish Gubernur , Jerome Powell. Mata uang Paman Sam terpantau melemah 0,049 poin atau 0,05% ke level 92,575 pada pukul 10.48 WIB.

Dalam kesaksiannya di depan Kongres AS, Powell mengatakan bahwa pasar kerja AS ‘masih jauh’ dari kemajuan yang ingin dilihat sebelum mengurangi dukungannya untuk ekonomi. Ia melanjutkan bahwa inflasi adalah fenomena berumur pendek dan penghapusan beberapa stimulus bank sentral agak jauh karena pasar tenaga kerja masih berjuang untuk pulih dari pandemi.

Analis pasar menilai bahwa pernyataan Powell itu meredakan ketakutan investor terhadap kenaikan suku bunga dalam waktu dekat, sehingga mendorong harga emas. Ahli strategi pasar senior di RJO Futures, Bob Haberkorn, mengatakan bahwa pergerakan emas di atas 1.800 dolar AS minggu ini bersama dengan kekhawatiran atas aksi jual di pasar ekuitas telah mendorong beberapa pembelian aset safe haven emas.

Loading...